Rekening Proxy Jaringan The Doctor Dibongkar, Perputaran Dana Capai Rp 124 Miliar
Rekening Proxy Jaringan The Doctor Dibongkar, Dana Rp 124 M

Rekening Proxy Jaringan The Doctor Dibongkar, Perputaran Dana Capai Rp 124 Miliar

Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil membongkar praktik tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan oleh jaringan narkoba pimpinan Andre Fernando alias 'The Doctor' dan Hendra Lukmanul Hakim alias Pak Cik. Investigasi mendalam mengungkap perputaran dana masif yang mencapai ratusan miliar rupiah melalui sejumlah rekening proxy atau rekening pihak ketiga.

Modus Penggunaan Rekening Proxy untuk Memutus Jejak

Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, menjelaskan bahwa sindikat narkoba kerap menggunakan rekening proxy untuk memutus jejak identitas antara pembeli dan bandar. Dari penelusuran sementara, ditemukan empat rekening proxy yang digunakan untuk menampung hasil kejahatan dengan total 2.134 transaksi.

Total arus masuk pada empat rekening penampung utama mencapai angka fantastis, yaitu Rp 124.052.487.704,97. Nilai ini mencerminkan skala operasi keuangan yang sangat besar dalam jaringan narkoba tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Detail Perputaran Dana pada Setiap Rekening

Tim gabungan Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri dan Satgas NIC, dipimpin oleh Kombes Handik Zusen dan Kombes Kevin Leleury, telah mengamankan empat tersangka dalam kasus ini. Mereka terdiri dari dua wanita dengan inisial DEH asal Tasikmalaya dan L asal Bekasi, serta dua pria dengan inisial TZR dan MR yang ditangkap di Aceh Timur.

Brigjen Eko merincikan perputaran dana pada setiap rekening:

  • Rekening L: Menyimpan Rp 81,9 miliar dari total Rp 124 miliar. Selama periode 1 Agustus 2024 hingga 31 Maret 2026, rekening ini mencatat arus masuk tertinggi senilai Rp 81.902.383.662 melalui 946 transaksi. Pola structuring yang rapi ditemukan, dengan nominal berulang Rp 99.999.999 sebanyak 445 kali untuk menghindari deteksi. Tersangka L direkrut dengan imbalan Rp 1 juta untuk menyerahkan kartu ATM dan m-Banking miliknya.
  • Rekening TZR: Mengalirkan uang senilai Rp 35,1 miliar. Rekening ini digunakan langsung oleh supplier utama sabu, Hendra Lukmanul Hakim alias Pak Cik, untuk menerima transfer pembayaran dari perantara Andre Fernando. Pada periode 9 Oktober 2025 hingga 28 Februari 2026, total dana masuk mencapai Rp 35.151.760.380,42 dari 426 transaksi. TZR membuka rekening atas perintah tersangka M alias Bang Ja dengan janji imbalan uang.
  • Rekening MR: Menampung aliran dana Rp 3,9 miliar. Rekening ini digunakan untuk menampung uang awal pesanan narkoba dari pembeli, termasuk dari bandar Erwin Iskandar, sebelum disetorkan ke Hendra. Rekening ini dipegang langsung oleh Andre Fernando alias 'The Doctor'. Dari 27 Agustus 2025 hingga 11 Februari 2026, total arus dana masuk berjumlah Rp 3.961.331.012,87 dari 108 transaksi. Rekening ini dibeli sindikat dengan harga Rp 5 juta, termasuk kartu ATM, kartu perdana, dan HP, namun penggunaan dihentikan karena sisa saldo dicuri pemilik asli.
  • Rekening DEH: Mencatat aliran dana masuk Rp 3 miliar lebih. Rekening ini dikuasai oleh pengelola keuangan jaringan, Charles Bernado (Charlie), untuk mengelola operasional rekening masking. Selama 21 Agustus 2025 hingga 28 Februari 2026, arus uang masuk senilai Rp 3.037.012.649,39 dari 654 transaksi. Tersangka DEH, yang terdesak kebutuhan ekonomi, bersedia menyerahkan KTP-nya untuk didaftarkan rekening secara online dengan imbalan tunai Rp 2 juta.

Implikasi dan Langkah Selanjutnya

Kasus ini menunjukkan betapa canggihnya modus operandi sindikat narkoba dalam melakukan pencucian uang. Penggunaan rekening proxy dengan pola transaksi yang terstruktur rapi menjadi tantangan serius bagi otoritas keuangan dan penegak hukum. Bareskrim Polri terus mendalami kasus ini untuk mengungkap jaringan lebih luas dan mencegah praktik serupa di masa depan.

Upaya penegakan hukum ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan mengganggu operasi keuangan sindikat narkoba, sehingga mengurangi peredaran narkoba ilegal di masyarakat. Masyarakat diimbau untuk waspada dan tidak mudah tergiur iming-iming uang untuk menyalahgunakan rekening pribadi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga