Nadiem Jelaskan Chat 'Ganti Manusia dengan Software' hingga Sekutu Eksternal di Sidang
Nadiem Jelaskan Chat 'Ganti Manusia dengan Software' di Sidang

Nadiem Jelaskan Makna Chat 'Ganti Manusia dengan Software' hingga Sekutu Eksternal di Sidang Korupsi

Jakarta - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim memberikan penjelasan mendetail mengenai pesan-pesan dalam grup WhatsApp yang membahas penggantian manusia dengan software hingga pembentukan tim untuk berkoordinasi dengan sekutu eksternal. Penjelasan ini disampaikannya saat menjadi saksi mahkota dalam sidang dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Selasa (9/3/2026).

Konteks Pembuatan Grup WhatsApp 'Edu Org'

Nadiem mengungkapkan bahwa grup WhatsApp bernama 'Edu Org' dibuatnya sekitar bulan Agustus, sebelum ia resmi menjabat sebagai menteri. Grup ini dibentuk setelah ia menerima bocoran bahwa dirinya kemungkinan akan diangkat menjadi Mendikbudristek. "Saya membuat grup itu karena saya tidak punya latar belakang pendidikan. Saya hanya punya latar belakang di swasta, di bidang teknologi, dan di bisnis. Tapi saya punya passion yang sangat besar untuk pendidikan," jelas Nadiem di persidangan.

Ia menambahkan bahwa grup tersebut merupakan bentuk persiapan jika benar ia menjadi menteri. Setelah dilantik, nama grup diubah menjadi 'Mas Menteri Core Team'. "Saya membuat grup ini dengan memprioritaskan orang-orang di berbagai ekspertis mereka sendiri yang punya kemungkinan besar punya motivasi untuk bergabung dalam tim dalam melakukan transformasi pendidikan," ujar Nadiem.

Empat Poin Penting dalam Chat WhatsApp

Jaksa penuntut umum mengajukan pertanyaan mengenai empat poin yang terdapat dalam percakapan grup WhatsApp tersebut. Keempat poin tersebut adalah:

  1. Remove humans and replace with software
  2. Find internal change agents and empower them
  3. Bring in fresh blood from outside
  4. Build new teams with ministry to coordinate external allies

Nadiem kemudian memberikan penjelasan rinci untuk setiap poin. Untuk poin pertama tentang penggantian manusia dengan software, ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah efisiensi anggaran dan waktu melalui sistem otomasi. "Banyak sekali di dalam birokrasi ada pekerjaan-pekerjaan manual seperti contohnya surat-menyurat yang sebenarnya bisa diotomasi. Maksud saya untuk menggantikan tugas-tugas yang manual itu dengan software adalah otomasi," paparnya.

Lebih lanjut, Nadiem menyatakan bahwa dengan otomasi, manusia dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar membutuhkan energi dan karya. "Sehingga manusianya bisa fokus kepada hal-hal yang benar-benar membutuhkan energi dan karyanya," tambahnya.

Penjelasan Poin Lainnya

Untuk poin kedua tentang menemukan agen perubahan internal dan memberdayakan mereka, Nadiem menjelaskan bahwa ini berarti mencari orang-orang terbaik di dalam kementerian yang selama ini diabaikan. "Bertahun-tahun mereka nggak pernah dapat atensi karena mereka orang jujur, mereka orang yang kerja keras tapi tidak pernah dinaikkan di dalam posisi yang penting," ujarnya.

Poin ketiga mengenai membawa darah segar dari luar diartikan sebagai upaya untuk melibatkan orang-orang dari luar yang memiliki passion terhadap pendidikan untuk berkontribusi. "Bukan hanya artinya seperti stafsus dari luar masuk atau tim teknologi tetapi juga organisasi-organisasi masyarakat," jelas Nadiem sambil menyebutkan program POP sebagai contoh konkret.

Sedangkan poin keempat tentang membangun tim baru untuk berkoordinasi dengan sekutu eksternal dimaknai sebagai pembentukan tim di dalam kementerian untuk mengoordinasikan semua institusi luar yang telah bergerak dalam reformasi pendidikan.

Latar Belakang Sidang Korupsi Chromebook

Sidang ini menangani kasus dugaan korupsi dalam pengadaan Chromebook dan CDM dengan terdakwa Mulyatsyah (Direktur SMP Kemendikbudristek 2020), Sri Wahyuningsih (Direktur Sekolah Dasar), dan Ibrahim Arief alias Ibam (tenaga konsultan). Jaksa mendakwa ketiganya telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,1 triliun.

Rincian kerugian tersebut berasal dari kemahalan harga laptop Chromebook sebesar Rp 1,567 triliun dan pengadaan CDM yang dinilai tidak diperlukan serta tidak bermanfaat senilai sekitar Rp 621 miliar. Sidang dakwaan sebelumnya telah digelar pada Selasa (16/12/2025).

Penjelasan Nadiem ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai strategi dan pendekatan yang rencananya akan diterapkan dalam transformasi pendidikan, sekaligus menjadi bagian dari proses hukum dalam kasus korupsi yang sedang berlangsung.