Jaksa Selidiki Asal Istilah 'Sultan' Kemnaker, Terdakwa Sebut dari Noel Mulia Budi
Jaksa Selidiki Asal Istilah 'Sultan' Kemnaker dari Noel

Jaksa Selidiki Asal Istilah 'Sultan' Kemnaker, Terdakwa Sebut dari Noel Mulia Budi

Jaksa penuntut dalam kasus pemerasan sertifikasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara intensif menanyai terdakwa Irvian Bobby Mahendro mengenai asal-usul sebutan 'Sultan' Kemnaker yang disematkan kepadanya. Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Senin (20/4/2026), Bobby dengan tegas menyatakan bahwa istilah tersebut berasal dari mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Gerungan, yang lebih dikenal sebagai Noel Mulia Budi.

Pengakuan Terdakwa di Hadapan Hakim

Bobby bersaksi sebagai saksi untuk terdakwa lain dalam kasus ini, termasuk Noel, Fahrurozi selaku Dirjen Binwasnaker dan K3 pada Maret 2025, serta perwakilan dari PT KEM Indonesia, Miki Mahfud dan Temurila. Saat jaksa menanyakan, "Terkait dengan istilah sultan Kemnaker ini, sebetulnya istilah sultan Kemnaker yang disematkan kepada Saudara itu dari siapa sebetulnya itu?", Bobby menjawab bahwa ia baru mengetahui istilah itu setelah membaca Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari Immanuel.

"Saya baru tahu setelah membaca BAP dari saudara Immanuel. Saudara Immanuel yang mengatakan bahwa saya sultan Kemnaker," ujar Bobby. Jaksa kemudian mengonfirmasi, "Dari Terdakwa Immanuel yang menyatakan Saudara itu sultan Kemnaker ya?", dan Bobby membenarkan dengan jawaban singkat, "Iya."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penjelasan dan Keberatan atas Istilah Tersebut

Bobby mengaku tidak memahami mengapa istilah 'Sultan' Kemnaker muncul dan ditujukan padanya. Ia sempat menanyakan hal ini langsung kepada Noel saat mereka berada di rumah tahanan. "Pernah saya tanyakan pada saat di Rutan," kata Bobby. Menurut pengakuannya, Noel memberikan penjelasan yang membuatnya tidak nyaman.

"Saya tanya bang maksudnya apa kok ngomong sultan Kemnaker? Pada saat itu yang bersangkutan menjawab bahwa sultan Kemnaker itu karena 'lu tuh leboy' atau apa gitu istilahnya dia itu, banyak perempuan atau apa gitu istilahnya. Terus saya sampaikan, maksudnya gimana bang? Gitu," papar Bobby. Ia menambahkan, "Kan abang nggak tahu dulu saya pada saat saya berkomunikasi dengan abang, abang nggak tahu terkait dengan saya banyak perempuan atau apa istilah abang itu. Saya pada saat itu tidak terima disebut dengan sebutan seperti itu."

Latar Belakang Kasus Pemerasan Sertifikasi K3

Kasus ini berawal dari dakwaan terhadap Noel dan rekan-rekannya yang diduga melakukan pemerasan terhadap pemohon sertifikasi K3. Mereka dituduh meminta biaya tambahan sebesar Rp 6.522.360.000 untuk pengurusan sertifikasi, dengan ancaman akan mempersulit proses jika tidak dibayar. Praktik ini disebut terjadi bahkan sebelum Noel menjabat sebagai Wamenaker, dan menurut jaksa, terus berlanjut dengan Noel menerima bagian dari hasil pemerasan tersebut.

Sidang ini menjadi sorotan publik karena melibatkan pejabat tinggi dan mengungkap praktik korupsi di sektor ketenagakerjaan. Penggunaan istilah 'Sultan' Kemnaker menambah dimensi baru dalam kasus ini, menunjukkan bagaimana budaya penyematan gelar tidak resmi dapat terkait dengan tindak pidana korupsi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga