Investor China Dianiaya Massa Saat Survei Lokasi Tambang Emas di Enrekang
Investor China Dianiaya Saat Cek Tambang Emas di Enrekang

Investor China Dianiaya Massa Saat Survei Lokasi Tambang Emas di Enrekang

Seorang investor asal China berinisial C bersama rekan perempuannya mengalami penganiayaan oleh sekelompok massa saat melakukan peninjauan lokasi pembukaan lahan tambang emas di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Insiden ini terjadi pada Jumat (6/3/2026) sore di Kecamatan Cendana, di mana korban yang merupakan perwakilan dari CV Hadaf Karya Mandiri didampingi sejumlah tokoh masyarakat untuk mengambil sampel di area eksplorasi tambang emas.

Polisi Tanggapi Laporan Penganiayaan

Kapolres Enrekang AKBP Hari Budiyanto mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai dua korban, yaitu seorang warga negara asing (WNA) asal China dan seorang rekan perempuannya. "Kami sudah menerima laporan seorang WNA asal China yang menjadi korban penganiayaan bersama seorang rekannya perempuan. Jadi ada dua korban semua," kata Hari, seperti dilansir dari sumber resmi. Ia menambahkan bahwa korban sempat menyampaikan rencana untuk melapor sebelum kejadian, namun tidak didampingi oleh pengamanan polisi saat survei.

Menurut keterangan polisi, korban diduga diadang oleh massa yang menolak keberadaan proyek tambang emas di lokasi tersebut. "Ternyata mereka survei dengan tokoh masyarakat (tanpa pengamanan polisi). Tiba-tiba kami terima informasi begitu (diadang warga yang menolak tambang)," imbuh Hari. Setelah menerima informasi, petugas kepolisian segera turun ke lokasi untuk mengamankan korban dan membawanya ke RSUD Massenrempulu guna mendapatkan perawatan medis yang diperlukan.

Penyelidikan Masih Berlangsung

Polisi masih melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus penganiayaan ini. Faktor penolakan warga terhadap proyek tambang emas diduga menjadi pemicu utama insiden tersebut. Upaya untuk mengungkap motif dan identitas pelaku sedang diintensifkan, dengan harapan dapat memberikan keadilan bagi korban. Kasus ini menyoroti ketegangan antara kepentingan investasi dan perlindungan hak-hak masyarakat lokal di daerah pertambangan.

Insiden ini juga mengingatkan pentingnya koordinasi antara investor, pemerintah, dan masyarakat dalam pelaksanaan proyek-proyek skala besar. Pengamanan yang memadai dan dialog terbuka diharapkan dapat mencegah terjadinya konflik serupa di masa depan. Masyarakat diimbau untuk menyampaikan aspirasi melalui jalur hukum yang berlaku, bukan dengan tindakan kekerasan.