Ayah seorang santriwati yang menjadi korban pelecehan seksual oleh pemilik Pondok Pesantren di Pati, Jawa Tengah, mengungkapkan pengalamannya saat melaporkan kasus tersebut ke polisi. Ia melaporkan pemilik ponpes berinisial AS atas dugaan pelecehan seksual terhadap anaknya.
Pengakuan Ayah Korban
"Itu yang dikatakan anak saya, beberapa temannya saya datangi. Ternyata yang dikatakan anak saya itu cocok dengan apa yang telah dikatakan anak saya, apa yang diperlakukan, apa yang dilakukan oleh Pak Kyainya kepada anak-anak tadi. Ya berkenaan dengan masalah itu, pelecehan seksual tadi," kata ayah korban kepada wartawan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (7/4/2026).
Ayah korban menyebut laporan polisi telah dilayangkan sejak 2024. Sejak saat itu, keluarga korban mendapat intimidasi. "Dalam proses setelah saya laporan, buat laporan itu, saya beberapa kali mendapat intimidasi dari keluarga pelaku. Termasuk ancaman," jelas dia.
Namun, ayah korban mengaku tidak takut dengan intimidasi tersebut. Baginya, memperjuangkan keadilan untuk anaknya berarti berjuang untuk teman-teman anaknya. "Di situ saya tidak putus asa. Soalnya dari awal tujuan saya bukan untuk semata-mata saya atau anak saya, tapi saya di situ melihat banyak generasi atau anak-anak jadi korban. Itulah yang mulai dari niat saya untuk membuka laporan di Polres. Karena kalau dibiarkan, itu mungkin saja banyak sekali jadi korban oleh oknum tadi," jelas dia.
Kecurigaan Sejak Awal
Ayah korban melanjutkan, ia sempat memiliki prasangka terhadap AS yang mencurigakan. Ia melihat AS sering mengajak wanita yang bukan mahramnya. "Lah di situ ya, saya sebenarnya itu juga dari kelakuan si pelaku itu, saya sudah gerak-geriknya itu kerjanya sudah negatif gitu. Soalnya kalau jalan keluar, entah itu pergi kegiatan untuk... itu ada kegiatan di luar, yang diajak itu cewek-cewek gitu," imbuh dia.
Namun saat itu, ayah korban yang juga bekerja di sekitar lokasi tidak curiga sama sekali. Kecurigaan mulai meningkat saat anaknya menceritakan hal yang sama seperti apa yang dilihatnya. "Tapi setelah anak saya itu bilang sama ibunya gini-gini-gini, saya mulai itu berarti kecurigaan saya selama ini benar. Jadi setelah anak saya memberi penjelasan kepada ibunya itu tadi, saya lakukan itu, teman-temannya itu saya hubungi. Ternyata benar apa yang dikatakan anak saya, anak-anak teman-teman anak saya tadi diperlakukan seperti apa yang dikatakan anak saya itu," tegasnya.
Perjuangan Melawan Rasa Takut
Awalnya, ayah korban sempat takut hal ini akan dianggap aib di mata banyak orang. Tapi alasan memperjuangkan keadilan bagi anak dan sejawatnya menjadi pelecut agar tidak mundur. "Tapi demi untuk berjuang untuk orang banyak, saya siap. Saya ajak anak saya bismillah ayo Nduk, bismillah memperjuangno kanca-kancamu nggih mboten Nduk? (Memperjuangkan teman-temanmu, benar tidak?) Nggih. Bismillah muga-muga (semoga) barokah," kata dia.
Singkat cerita, secercah harapan mulai datang saat kasus pelecehan AS viral. Menurutnya, beban yang selama ini ada pada diri dan anaknya terasa lebih ringan. "Tapi saya terima kasih kepada semua masyarakat setelah ini, itu dari media viral, alhamdulillah plong rasanya. Soalnya apa beban sing wonten manah kulo manah lare (beban yang ada di saya dan anak), termasuk perjuangan iki banyak yang membantulah nggih, katanya," pungkasnya.



