TNI Buka Peluang Kerja Sama dengan Polri Usut Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Aulia Dwi Nasrullah, menyatakan pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mengusut kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta Pusat pada Selasa, 17 Maret 2026.
Keterlibatan TNI Didasarkan pada Opini Publik
Aulia menjelaskan bahwa keterlibatan TNI dalam penyelidikan kasus ini didasarkan pada berkembangnya opini publik yang mengaitkan institusinya dengan insiden tersebut. "Tentunya kita tidak ingin ini menjadi opini yang berkembang di masyarakat," ujarnya. Dia menekankan bahwa narasi yang beredar perlu ditindaklanjuti untuk menghindari kesalahpahaman lebih lanjut.
Menurut Aulia, TNI saat ini masih mengandalkan metode penyelidikan internal. Namun, dia membuka peluang kerja sama dengan Polri, mengingat TNI juga memiliki perangkat hukum dan aparat yang berwenang di lingkungannya. "Nanti kita lihat (peluang kerja sama dengan Polri) karena sekali lagi, kami dari TNI juga punya perangkat hukum dan ini dilakukan oleh aparat yang berwenang di lingkungan TNI," kata Aulia.
Kondisi Korban dan Detail Serangan
Serangan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, terjadi pada 14 Maret 2026 di Yogyakarta. Dimas Bagus Arya, seorang sumber terkait, melaporkan bahwa serangan ini mengakibatkan luka serius di sekujur tubuh Andrie, terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata. Foto-foto yang beredar menunjukkan poster bergambar bunga dipegang oleh aktivis saat demonstrasi mendukung Andrie, menandakan dukungan publik terhadap korban.
Insiden ini telah menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan aktivis dan masyarakat, mengingat KontraS adalah organisasi yang fokus pada isu orang hilang dan korban tindak kekerasan.
Komitmen Transparansi dalam Penyelidikan
Aulia memastikan bahwa proses penyelidikan akan dilakukan secara transparan dan profesional untuk menghindari pengaburan fakta. "Masih dalam proses. Jadi nanti kawan-kawan wartawan mohon bersabar," katanya, meskipun dia belum merinci perkembangan penyelidikan yang telah dilakukan. Pernyataan ini menegaskan komitmen TNI untuk menyelesaikan kasus dengan integritas.
Dengan membuka peluang kerja sama dengan Polri, TNI berharap dapat mempercepat penyelidikan dan memberikan keadilan bagi korban. Langkah ini juga dianggap penting untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi militer dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan kekerasan.
