Tiga orang pekerja tewas dalam kecelakaan kerja di gorong-gorong kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis (9/7). Salah satu korban merupakan warga negara asing (WNA) yang sempat berteriak meminta pertolongan sebelum akhirnya pingsan dan meninggal dunia.
Kronologi Kecelakaan
Petugas pemadam kebakaran (damkar) menerima permohonan evakuasi korban pada pukul 09.49 WIB dan berhasil menyelesaikan proses evakuasi pada pukul 11.55 WIB. Kasiops Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur, Abdul Wahid, mengatakan, "Korban berhasil dikeluarkan dari dalam gorong-gorong dan petugas aman."
Menurut Wahid, kejadian bermula ketika seorang pekerja masuk ke gorong-gorong dan tidak sadarkan diri di setengah tangga. Rekan kerjanya yang mencoba menolong justru ikut pingsan. Kemudian, satu orang lagi masuk dan pingsan. Total tiga orang meninggal dunia.
Identitas Korban: Satu WNA, Dua WNI
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengonfirmasi bahwa salah satu korban adalah WNA, sementara dua lainnya warga negara Indonesia. Ketiganya merupakan pekerja subkontraktor atau pihak ketiga yang mengerjakan proyek. "Saya sudah mendapatkan laporan dari Dirut PAM Jaya. Memang betul ada tiga orang. Dari tiga orang itu satu WNA, jadi dua warga kita," kata Pramono di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Jumat (10/7/2026).
Pramono menegaskan insiden terjadi saat subkontraktor sedang bekerja, bukan di lingkungan operasional PAM Jaya.
Kesaksian Warga: WNA Panik dan Teriak Minta Tolong
Saksi mata bernama Febri (31) menuturkan bahwa dua korban pertama masuk ke gorong-gorong secara bergantian untuk menolong rekan yang lebih dulu masuk dan tak sadarkan diri. Korban pertama dipanggil tidak menyahut, sehingga temannya ikut masuk untuk menolong.
Menurut Febri, WNA yang diduga mandor proyek itu kemudian memanggil rekannya dari atas gorong-gorong. Karena tidak mendapat jawaban, ia panik dan berteriak meminta bantuan kepada warga sekitar. "Dia berteriak-teriak di sini. Orang sini juga bingung karena bahasanya orang sini pada nggak tahu. 'Itu kenapa? Itu kenapa?' begitu," ujar Febri.
Warga sempat memperingatkan WNA tersebut agar tidak ikut turun. Namun, karena merasa bertanggung jawab, ia tetap nekat masuk. "Sudah dibilang, 'Pak, sudah cukup satu saja yang masuk. Jangan masuk lagi.' Tapi dia tetap nekat. Mungkin mikirnya dia penanggung jawab, mandor," tutur Febri.
Tak lama setelah masuk, WNA itu sempat berteriak sekali sebelum akhirnya tidak terdengar suaranya. Seorang pekerja lain juga berusaha menolong, namun akhirnya pingsan.
Bau Menyengat Diduga Gas Berbahaya
Febri mengaku pernah membantu pekerja membuka penutup gorong-gorong sebelum insiden. Gorong-gorong dibiarkan terbuka selama tiga jam. Saat ia mendekat, ia mencium bau menyengat yang diduga gas berbahaya. "Saya tanya, 'Memang bergas, Bang?' Dia bilang, 'Bergas.' Saya juga sempat periksa, oh iya ya, baunya menyengat," ujarnya.
Pekerja yang datang sebelumnya memahami adanya potensi gas berbahaya, sehingga mereka memilih menunggu sebelum mulai bekerja.
PAM Jaya Layangkan Surat Peringatan
PT PAM Jaya (Perseroda) akan melayangkan surat peringatan (SP) kepada mitranya, PT Moya Indonesia, buntut insiden tersebut. Komisaris Utama PAM Jaya Prasetyo Edi Marsudi menegaskan, "Kami sangat-sangat berduka dan berempati atas korban meninggal dunia yang terjadi saat pekerjaan konstruksi. Kami telah meminta PT Moya bertanggung jawab penuh menyelesaikannya dengan baik sesuai kemanusiaan dan hukum."
PAM Jaya juga meminta PT Moya Indonesia melakukan investigasi bersama pihak terkait untuk mengungkap penyebab insiden, serta menyelesaikan seluruh tanggung jawab kepada korban dan keluarga. "PAM Jaya akan memberikan surat peringatan (SP) kepada PT Moya Indonesia, dengan harapan kejadian serupa tidak terulang kembali," ungkap Prasetyo.
PT Moya Akan Evaluasi K3
PT Moya Indonesia menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Perusahaan menjelaskan proyek yang dikerjakan adalah pembangunan infrastruktur jaringan distribusi air bersih untuk mendukung peningkatan layanan air minum bagi masyarakat Jakarta.
"Keselamatan kerja merupakan prioritas utama dalam setiap pelaksanaan proyek. Moya akan terus memperkuat penerapan standar keselamatan kerja serta memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku," demikian pernyataan PT Moya Indonesia.



