Polisi Buru Pria Mengaku Aparat yang Aniaya 3 Petugas SPBU di Jakarta Timur
Polisi Buru Pria Aniaya 3 Petugas SPBU di Jaktim

Polisi Buru Pria Mengaku Aparat yang Aniaya 3 Petugas SPBU di Jakarta Timur

Polisi masih mendalami kasus dugaan penganiayaan terhadap tiga pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Insiden ini dilakukan oleh seorang pria yang mengaku sebagai aparat penegak hukum dengan jabatan penting, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja.

Penyelidikan Intensif oleh Polisi dan Propam

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengonfirmasi bahwa Polres Jakarta Timur bersama Ditreskrimum Polda Metro Jaya sedang mengecek identitas pria yang mengaku aparat tersebut. "Polres Jaktim dan Ditreskrimum PMJ sedang mendalami kejadian tersebut dan orang yang mengaku aparat," kata Budi dalam keterangannya pada Selasa, 24 Februari 2026.

Secara terpisah, Kabid Propam Polda Metro Jaya, Kombes Radjo Alriadi Harahap, menyebut bahwa pihak Propam juga turun tangan dalam penyelidikan ini. "Masih kami dalami dengan Reskrim Polrestro Jaktim terhadap pelaku pemukulan dimaksud," ujar Radjo. Dia menegaskan bahwa kehadiran Propam bertujuan untuk memastikan apakah pelaku benar-benar anggota aparat atau hanya mengaku-ngaku semata.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kronologi Kejadian dan Kondisi Korban

Peristiwa penganiayaan terjadi pada Minggu malam, 22 Februari 2026, sekitar pukul 22.00 WIB di SPBU 3413901. Tiga pegawai yang menjadi korban adalah:

  • Ahmad Khoirul Anam, staf dengan pengalaman kerja lima tahun, ditampar di pipi.
  • Lukmanul Hakim, operator lulusan SMK, dipukul di rahang sebelah kanan.
  • Abud Mahmudin, operator dengan empat tahun pengalaman, dipukul di bawah mata dan pipi hingga giginya copot.

Pemilik SPBU, Ernesta, langsung melaporkan kejadian ini ke Polsek Pulogadung. "Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU, dan pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum," kata Ernesta, seperti dikutip dari Antara.

Trauma dan Kekhawatiran Para Korban

Insiden ini meninggalkan trauma mendalam bagi para korban. Lukman mengungkapkan ketakutannya bahwa pelaku mungkin kembali. "Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat manggil-manggil nama saya. Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi bawa backing-an. Jadi, masih khawatir," ucapnya.

Abud menceritakan detail luka yang dialaminya: "Gigi saya patah jadi setengah doang, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena pas dihajar bagian pipi." Dia mengaku tidak tahu awal mula keributan, hanya ingin melihat situasi karena mendengar kegaduhan di area depan SPBU.

Para pegawai sempat tak berani masuk kerja sehari setelah kejadian karena takut masih diincar pelaku. "Iya, sempat libur karena takutnya pelaku ini datang lagi ke lokasi, mungkin masih emosi," kata Lukman. Dia telah menjalani visum di RS Polri Kramat Jati dan melanjutkan perawatan medis di rumah sakit lain.

Dampak dan Harapan untuk Keamanan

Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja SPBU yang sehari-hari melayani masyarakat secara langsung. Para korban berharap ada jaminan keamanan dari pihak berwajib agar mereka dapat kembali bekerja tanpa rasa takut. Penyidikan terus berlanjut untuk mengungkap kebenaran identitas pelaku dan memastikan keadilan bagi korban.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga