Brigpol Firgha, Polwan Berdedikasi Pengawal Kasus PPA di Sultra, Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026
Brigpol Firgha Amaliyah Ghazali, seorang polwan yang bertugas di Banit PPA Ditreskrimum Polda Sulawesi Tenggara (Sultra), mendapatkan pengakuan atas dedikasinya dalam menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Atas kontribusinya yang luar biasa, ia kini diusulkan menjadi kandidat penghargaan Hoegeng Awards 2026.
Testimoni dari Korban yang Terinspirasi
Pengusulan ini datang dari AN, orang tua dari seorang anak yang menjadi korban pelecehan. AN melaporkan kasus pelecehan yang dialami anaknya kepada Polda Sultra pada tahun 2025, dan laporan tersebut ditangani langsung oleh Brigpol Firgha. Dalam testimoni yang diberikan, AN mengungkapkan bahwa Brigpol Firgha menunjukkan dedikasi tinggi, bahkan bekerja di hari libur seperti Minggu untuk memeriksa saksi-saksi yang diajukan.
"Pas menangani kasus yang saya laporkan, beliau sangat baik dan berdedikasi tinggi walaupun di hari libur (Minggu) beliau tetap memeriksa saksi yang saya ajukan," kata AN. "Beliau selalu memberikan support dan semangat kepada anak saya (korban) untuk berani berbicara dan melaporkan atas tindak pidana pelecehan yang anak saya alami."
AN juga menekankan bahwa Brigpol Firgha selalu mengutamakan kenyamanan korban selama proses pemeriksaan, sehingga anaknya merasa nyaman dan tidak takut. "Beliau polwan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan terhadap korban," tambah AN.
Fleksibilitas dan Kerendahan Hati yang Menonjol
Dalam wawancara terpisah, AN menceritakan lebih lanjut tentang fleksibilitas Brigpol Firgha. Ia menyebutkan bahwa jika ada saksi yang tidak bersedia diperiksa di kantor polisi, Brigpol Firgha tidak keberatan untuk datang langsung ke tempat pihak terkait, kapan pun dan di mana pun.
"Kan saksi yang saya ajukan, ada saksi ahli, ada saksi dokter psikolog, mereka sempatnya (untuk diperiksa) hari Minggu, biar hari Minggu dia (Firgha) mau dia ambil BAP begitu," jelas AN. "Penyidik lain itu tidak bisa mengambil BAP hari libur, kan weekend toh, berarti kita ganggu istirahatnya. Tapi dia sesuaikan dengan saksi yang saya bawa."
Selain itu, AN menggambarkan Brigpol Firgha sebagai sosok yang humble dan baik, yang membuat pelapor seperti dirinya tidak merasa segan atau takut selama proses hukum berlangsung. "Dia humble orangnya, baik, maksudnya kita pelapor biasanya kan dihadapi penyidik itu kayak segan, takut to, tapi kalau dia alhamdulillah tidak," ujar AN.
Pengalaman Panjang dalam Menangani Kasus PPA
Brigpol Firgha telah berkecimpung dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (PPA) sejak tahun 2016, artinya sudah lebih dari 10 tahun ia mengabdikan diri di bidang ini. Ia merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025 dan telah menangani ratusan kasus selama bertugas.
"Karena memang sudah bertugas di PPA kan sudah lama, jadi sudah terbawa sampai ke kehidupan sehari-hari," kata Brigpol Firgha. "Apalagi sekarang ini kasus di Kendari itu untuk tindak kekerasan seksual maupun fisik kepada perempuan dan anak itu semakin tahun semakin meningkat, khususnya yang laporan yang masuk di Polda Sultra."
Ia menambahkan bahwa banyak kasus kekerasan yang viral telah berhasil ditangani, seperti kasus pelemparan bayi dan pengeroyokan terhadap anak pencuri tabung gas. "Banyak sih (kasus kekerasan viral), kayak yang kemarin itu ada yang ngelempar anak bayi di lantai, itu yang dilakukan sama perempuan. Kemudian yang viral lagi itu kasus yang pengeroyokan terhadap anak pencuri tabung gas," ucapnya.
Tantangan dalam Penanganan Kasus di Sultra
Menangani kasus PPA di Sulawesi Tenggara tidaklah mudah. Brigpol Firgha mengungkapkan tantangan utama, termasuk jarak tempuh yang jauh ke lokasi kejadian, yang bisa mencapai puluhan kilometer dari Polda Sultra. Selain itu, wilayah kepulauan Sultra mengharuskannya menyeberang lautan untuk menjemput bola penanganan kasus.
"Kayak yang TPPO tahun 2022, laporan tindak pidana perdagangan orang yang anak-anaknya itu dibawa ke Wakatobi untuk kerja di club, itu kami lewat darat dari Polda, kemudian keliling ke Wakatobi, itu kan jauh, harus lewat Buton dulu, perjalanannya lumayan jauh," jelas Firgha.
Ia juga menyebutkan bahwa dirinya rentan digugat oleh pihak-pihak yang tidak terima atas hasil penyidikan, yang dapat menyita waktu dan mengganggu tugas sehari-hari. Namun, Brigpol Firgha tetap yakin bahwa ia telah melaksanakan tugas dengan baik dan benar.
Atas dedikasi dan kontribusinya yang luar biasa ini, Brigpol Firgha layak dipertimbangkan untuk menerima penghargaan Hoegeng Awards 2026, sebagai bentuk apresiasi terhadap polwan yang telah mengabdi dengan hati dalam melindungi perempuan dan anak di Sultra.



