Ponpes Buang Buku Curhat Remaja Korban Pemerkosaan Ayah, Ini Alasannya
Ponpes Buang Buku Curhat Remaja Korban Pemerkosaan Ayah

Seorang remaja di Grobogan yang menjadi korban pemerkosaan ayah kandung selama 10 hari berturut-turut menuliskan curahan hatinya di sebuah buku catatan. Namun, buku tersebut justru dibuang oleh pihak pondok pesantren (ponpes) tempat korban tinggal setelah isinya diketahui.

Kronologi Pembuangan Buku Curhat

Kanit PPA Sat Reskrim Polres Grobogan, Iptu Cesara Rinda Ahadirohim, menjelaskan bahwa buku catatan itu dikumpulkan oleh santri sebagai bagian dari tugas. Buku tersebut kemudian dibaca oleh kiai di ponpes tersebut. "Jadi buku itu kan dikumpulkan, buku tulis itu kan kayak tugas gitu. Habis itu Mbah Kiai ini baca. Terus habis itu (bukunya) dibawa Mbah Kiainya. Nggak sengaja membaca, bukan buku diari," tutur Cesara saat dihubungi, Selasa (21/7/2026).

Menurut Cesara, setelah membaca isinya, ponpes memutuskan untuk membuang buku tersebut. Pihak ponpes mengakui bahwa buku itu dianggap berisi hal-hal yang tidak senonoh. "Bukunya sudah dibuang, dibuang katanya. Itu memang betul, yang dari ponpes juga mengiyakan," ucap Cesara.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Alasan Ponpes Membuang Buku

Cesara menambahkan, alasan pembuangan buku itu karena isinya dinilai tidak pantas. "Karena nggak senonoh. Maksudnya kan itu kan bukunya bisa dibaca Mbah Kiainya, katanya nggak pantas gitu katanya," imbuhnya. Padahal, buku tersebut merupakan catatan pribadi korban yang berisi pengalaman traumatisnya selama 10 hari diperkosa oleh ayah kandung.

Kasus pemerkosaan ini terungkap setelah buku catatan korban ditemukan dan dibaca oleh kiai. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan menangkap ayah korban. Peristiwa ini menyoroti pentingnya perlindungan terhadap korban kekerasan seksual dan penanganan yang sensitif terhadap trauma korban.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga