Misteri kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati, yang jasadnya ditemukan membusuk dalam mobil dinas di Bandara Juanda pada 24 Juni 2026 lalu, menguak tabir lain. Pria yang terekam CCTV menyopiri mobil Ruly saat masuk ke bandara, Erlan, diduga melakukan love scamming kepada orang lain.
Salah satu korban yang berani membeberkan kedok Erlan adalah ARN, seorang pengusaha asal Bandung. Kepada detikJatim, ARN menceritakan bahwa dirinya menduga ada korban lain selain Ruly Yunis yang terpedaya love scamming oleh Erlan.
ARN Terima Banyak Laporan Korban Lain
ARN yang juga merupakan korban penipuan dan mengungkap sejumlah video saat dirinya bersama Erlan di Jakarta maupun di Bali mengaku cukup banyak pihak yang menghubungi dirinya. Beberapa di antaranya yakni penyidik dari Polda Jatim maupun dari Polresta Sidoarjo.
"Setelah video viral banyak yang kontak ke saya, baik dari Polda Jatim, Polresta Sidoarjo," ujar ARN saat dihubungi detikJatim, Kamis (9/7/2026).
Bukan hanya dari penyidik kepolisian, ada seorang perempuan pemilik akun media sosial dengan pengikut yang cukup banyak yang menghubungi dirinya untuk menanyakan tentang Erlan. "Ada perempuan yang follower-nya banyak kontak saya, dia kirim bukti-bukti bahwa dia sudah menjadi korban penipuan love scamming oleh Pak Erlan," kata ARN.
ARN Fasilitasi Komunikasi Korban dengan Polisi
Melihat banyaknya korban yang terjerat oleh tipu muslihat Erlan, ARN berkomitmen penuh membantu pihak kepolisian untuk menghentikan sepak terjang pelaku. Ia bahkan telah memfasilitasi komunikasi antara para korban baru dengan tim penyidik.
ARN mengungkapkan bahwa perempuan yang diduga korban love scamming sebelum Erlan mendekati Ruly itu adalah perempuan yang berasal dari Malang. Ya, setelah Erlan membawa kabur uang ARN sebanyak Rp 144 juta, ARN menduga Erlan kabur ke Malang.
"Setelah dari Bali itu ke Malang, kenal dulu sama orang lain. Baru kemudian dengan yang di Bangkalan itu," ujar ARN.
Wajah Erlan mulai tersebar di dunia maya setelah penemuan jenazah Sekdin Bangkalan di Bandara Juanda pada 24 Juni 2026 lalu. Terutama karena rekaman CCTV menunjukkan bahwa Erlan menyopiri mobil dinas Ruly.
"Menurut saya kenapa sampai membunuh mungkin gelap mata aja, kelepasan mungkin. Mungkin karena korban sadar ditipu atau gimana makanya gelap. Dan saya menduga love scamming sih, karena sebelum ada kejadian viral ini ada korban lain," tutur ARN mengungkap analisisnya atas karakter Erlan.
Modus Penipuan Erlan: Alih Gadai Tanah di Bali
ARN juga korban yang teperdaya oleh Erlan saat mereka tinggal di satu rumah kos di Jakarta Pusat. Di mata lingkungan sekitar, Erlan dikenal sebagai sosok yang sangat royal. Ia kerap membagikan makanan, minuman, hingga rokok kepada petugas keamanan dan kebersihan di sekitar kos.
Tak hanya itu, Erlan sangat pandai membangun citra diri (personal branding). Ia sengaja membawa ARN bertemu notaris serta pengacara terkenal di Jakarta demi memancarkan kesan bahwa dia adalah orang yang berpengaruh. Erlan bahkan pernah mengajak ARN ke sebuah pondok pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat, di mana di tempat itu sikap pengasuh ponpes sangat menghormati Erlan bahkan memanggilnya dengan sebutan "Pak Haji".
"Karena itulah saya percaya, dan saya berpikir saya harus membantu Pak Erlan ini," ujar ARN.
Memanfaatkan rasa percaya yang sudah terbangun, Erlan mulai melancarkan aksi penipuan bermodus finansial. Kepada ARN dan kerabatnya, Erlan mengaku mengalami himpitan ekonomi akibat musibah dan membutuhkan dana segar untuk menebus sertifikat tanah miliknya yang sedang digadaikan ke perorangan di Bali senilai Rp 600 juta.
Erlan menjanjikan keuntungan atau persenan jika ARN mau memberikan pinjaman modal untuk alih gadai tersebut. Terbujuk oleh skenario matang Erlan, ARN pun menyerahkan uang tunai Rp 120 juta dan mentransfer uang tambahan Rp 20 juta tapi memberi syarat kerabatnya harus mendampingi Erlan ke Bali pada Mei 2026.
Pengacara Ternama Juga Kena Tipu Erlan
Setibanya di Bali, keyakinan ARN sempat menguat karena Erlan benar-benar membawa mereka menemui pengacara kondang setempat, Togar Situmorang. Namun, fakta mengejutkan justru terungkap kemudian. Pengacara terkenal itu ternyata juga ikut menjadi korban manipulasi Erlan.
"Jadi ternyata Pak Erlan itu pura-pura mau menggadaikan ke orang lain itu tanahnya nggak ada. Dia bilangnya ke saya sama ke lawyer itu beda," jelas ARN.
Kepada ARN, Erlan mengaku ingin menebus tanah miliknya. Sebaliknya, kepada Togar Situmorang, Erlan berbohong dengan mengatakan hendak membeli tanah dan memperkenalkan kerabat ARN sebagai pihak pembeli.
Jelang hari eksekusi penebusan yang dijanjikan, Erlan tiba-tiba menghilang dari hotel tempat mereka menginap di Bali pada malam hari. Ia kabur dengan membawa serta uang tunai Rp 120 juta, uang transfer Rp 20 juta yang dikirim ke rekening asing, serta satu unit ponsel iPhone 13 yang sebelumnya dibelikan ARN karena iba melihat Erlan tak punya HP.
Sebelumnya, Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur membenarkan bahwa Erlan merupakan target operasi yang dikenal sebagai tukang tipu yang sangat licin karena kerap berpindah lokasi persembunyian. Seluruh personel Jatanras bersama Polresta Sidoarjo tengah memburu keberadaan Erlan.



