Ibu Tiri Korban Remaja Sukabumi Bantah Tudingan Kekerasan, Kritik Netizen
Ibu Tiri Korban Remaja Sukabumi Bantah Tudingan Kekerasan

Ibu Tiri Korban Remaja Sukabumi Bantah Tudingan Kekerasan dan Kritik Netizen

Kasus kematian tragis NS (13), seorang remaja asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus bergulir dan menyita perhatian publik. Di tengah penyelidikan kepolisian yang masih berlangsung, ibu tiri korban berinisial TR (47) akhirnya angkat bicara untuk pertama kalinya. Dalam pernyataannya, TR dengan tegas membantah segala tudingan kekerasan yang dialamatkan kepadanya terkait kematian NS.

Bantahan Tegas dan Kritik terhadap Netizen

Dengan nada bicara yang pasrah namun penuh ketegasan, TR mengkritik keras respons publik di media sosial yang telah menyudutkannya tanpa bukti yang jelas. Ia bahkan melabeli netizen yang menghujatnya sebagai "pahlawan kesiangan", menuding mereka hanya ikut-ikutan tanpa memahami fakta sebenarnya. TR mengaku telah merawat NS sejak korban masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, dan merasa terpukul dengan kepergian sang anak yang dianggapnya sebagai bagian dari keluarga.

"Jangan menjadi pahlawan kesiangan. Saya yang urusi tahlilan, bayar penggali kubur, itu semua pakai uang. Apa ada netizen yang merasa sok kasihan itu menyumbang? Kalau benar sayang, bantu biaya pemulasaraan dan doakan, bukan digoreng di media sosial," ujar TR dengan nada emosional, Senin (23/2/2026). Pernyataan ini mencerminkan kekecewaannya terhadap opini publik yang dianggapnya tidak adil dan cenderung menghakimi tanpa dasar.

Dampak Psikologis dan Proses Hukum

TR mengungkapkan bahwa di satu sisi, ia berduka atas kepergian NS, namun di sisi lain, ia merasa diperlakukan tidak adil oleh gelombang kritik di dunia maya. Situasi ini menambah beban psikologis yang sudah ia tanggung sejak tragedi terjadi. Sementara itu, kepolisian setempat masih melanjutkan penyelidikan mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kematian remaja tersebut. Proses hukum diharapkan dapat berjalan transparan dan memberikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.

Kasus ini menyoroti pentingnya menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi di media sosial, yang dapat memperburuk situasi dan menyakiti keluarga korban. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menyikapi berita-berita sensitif seperti ini, sambil menunggu hasil resmi dari pihak berwajib.