Aktivis Flotilla Akui Alami Kekerasan Seksual Saat Ditahan Israel
Aktivis Flotilla Alami Kekerasan Seksual di Tahanan Israel

Sejumlah relawan flotilla yang ditahan militer Israel mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi, termasuk kekerasan seksual. Mereka dideportasi setelah kapal yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza dicegat di perairan internasional.

Pengakuan Kekerasan Seksual

Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 menyatakan setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, serta perlakuan keji lainnya. BBC belum dapat memverifikasi tuduhan tersebut secara independen.

Aktivis Prancis, Meriem Hadjal, mengatakan kepada wartawan setelah tiba di Paris bahwa ia mengalami kekerasan seksual dan diraba. Ia juga dipukul, ditampar, disentuh, ditendang di tulang rusuk, dan rambutnya dijambak.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kecaman Internasional

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengecam perlakuan tidak manusiawi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Kanada, Jerman, dan Spanyol juga mengutuk perlakuan terhadap warga negara mereka.

Otoritas penjara Israel menolak tuduhan tersebut sebagai tidak benar dan menyatakan semua tahanan ditahan sesuai hukum. Militer Israel belum memberikan komentar.

Kronologi Penangkapan

Lebih dari 50 kapal dalam Global Sumud Flotilla 2.0 berlayar dari Turki untuk menembus blokade maritim Israel ke Gaza. Pada 18-19 Mei, pasukan Angkatan Laut Israel mencegat rombongan di perairan internasional barat Siprus. Para aktivis dipindahkan ke kapal Israel, dibawa ke Pelabuhan Ashdod, lalu ke penjara. Pada 21 Mei, 422 orang dari 41 negara dideportasi, termasuk sembilan warga Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga