Polda Jatim Buka Sayembara Rp20 Juta untuk Tangkap Erlan, Pembunuh Sekdin Bangkalan
Polda Jatim Buka Sayembara Rp20 Juta Tangkap Erlan

Penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur membuka sayembara sebesar Rp20 juta bagi siapa saja yang memberikan petunjuk keberadaan Erlan alias E, terduga pelaku pembunuhan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan berinisial RYS (51). Sayembara ini murni inisiatif dan dana pribadi para penyidik, bukan dari anggaran dinas.

Inisiatif Pribadi Penyidik

Kepala Tim Opsnal Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, Aipda Sigit Dwi Susanto yang akrab disapa Hellboy, menyatakan bahwa sayembara tersebut berasal dari dana pribadinya bersama rekan-rekan. "Siap [sayembara] dari kami pribadi. Dari awal kami sampaikan dana pribadi mas. Alhamdulillah banyak informasi yang kami dapat dari netizen dan ini mulai kami dalami informasi-informasi tersebut. Semoga ada yang bisa menuntun kami menangkap pelaku," kata Sigit kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).

Langkah ini diambil karena video dan informasi terduga pelaku telah viral di berbagai media, sehingga target semakin sering berpindah-pindah lokasi. Sayembara yang diumumkan di akun TikTok pribadinya @hellboyjatanraspolda itu bertujuan mempersempit ruang gerak Erlan dengan melibatkan partisipasi warganet. "Karena kan sudah terlanjur viral banyak media yang ngungkap video terduga pelaku, Mas. Jadi pelaku semakin berpindah-pindah, akhirnya kami inisiatif Mas, inisiatif pribadi untuk mempersempit ruang pelaku bergerak, Mas," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ide dari Tokoh Organisasi

Sigit mengungkapkan bahwa ide sayembara berasal dari seorang tokoh organisasi yang tidak ingin disebutkan namanya. Tokoh tersebut menawarkan bantuan dana setelah melihat rekam jejak timnya menangani kasus pembunuhan lain. Terkait total dana, Sigit mengonfirmasi nominal Rp20 juta yang disepakati untuk publik, meski kemungkinan dukungan dari pihak lain terus bertambah. "Ya, pokoknya terungkap ya nanti pastinya banyak yang mau bantu, Mas. Ya sementara ini Rp20 juta dulu," ujarnya.

Pengejaran terhadap Erlan tidak mudah karena diduga masih memiliki jaringan yang menampungnya berpindah-pindah tempat. "Masalahnya kan dia masih ada yang nampung, pindah masih ada yang nampung," kata Sigit. Penyidik terus mendalami informasi dan video CCTV dari masyarakat terkait keberadaan terduga pelaku. "Kebetulan di admin yang kami pas kan itu ada beberapa info yang menarik. Insyaallah semoga bisa membantu mempercepat ketangkepnya ini. Dan ini masih kami dalami pokoknya," ucapnya.

Kronologi Kematian Sekdin Bangkalan

Sebelumnya, RYS ditemukan tewas misterius di dalam mobil dinas di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Rabu (24/6). Dugaan pembunuhan menguat setelah tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong menemukan indikasi kekerasan pada tubuh korban, termasuk luka robek pada cuping telinga kiri akibat benturan benda tumpul. Dokter forensik juga menemukan pelebaran pembuluh darah pada kelopak mata dan kebiruan pada bibir yang lazim pada korban mati lemas atau asfiksia. Pemeriksaan organ dalam menunjukkan perubahan warna pada lidah, epiglotis, saluran napas atas, hingga dinding lambung.

Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengatakan pihaknya sudah mengantongi nama terduga pelaku dengan inisial E. Sosok E diyakini sebagai pria misterius yang terakhir bersama korban, terekam CCTV di area Bandara Juanda. Keduanya diketahui bepergian ke Malang dan Batu beberapa hari sebelum mayat RYS ditemukan. Jejak terduga pelaku sempat terlacak di Jawa Tengah, namun terus berpindah-pindah dan tidak menetap di alamat resminya di Malang. "Iya, sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah. Tapi ini berpindah-pindah. Pelaku ini kan alamatnya kan tidak ada itu di alamat rumahnya. Namanya Erlan," ungkap Risang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Rekam Jejak Erlan

Dari penelusuran, E merupakan pria asal Sulawesi Selatan yang pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yang telah dibubarkan pada 2004. Ia kerap berpindah domisili antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. E juga diduga memiliki rekam jejak penipuan dengan berbagai modus, seperti properti, proyek, dan jual-beli. "Penipuan semua, ya properti, proyek, jual-beli. Kalau korban ini ya mungkin ya penipuan modusnya love scam itu," kata Risang. Terkait perkenalan korban dan terduga pelaku, Risang menduga berkedok pencarian proyek. Penangkapan terhadap E menjadi kunci untuk mengungkap kronologi awal hubungan keduanya. "Nah, harus ditangkap dulu E-nya itu. Karena keluarga enggak kenal itu dengan E," tegasnya.