RI dan AFoCO Perkuat Kerja Sama Kehutanan di Korea Selatan, Fokus Proyek Karbon
RI-AFoCO Perkuat Kerja Sama Kehutanan di Korsel

RI dan AFoCO Perkuat Kerja Sama Kehutanan di Korea Selatan, Fokus Proyek Karbon

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, telah melakukan pertemuan strategis dengan Direktur Eksekutif Asia Forest Cooperation Organization (AFoCO), Park Chongho, di Korea Selatan. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama bilateral di bidang kehutanan, dengan fokus utama pada pengembangan proyek karbon, rehabilitasi lahan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari upaya diplomasi hijau yang menyertai kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto. "Pertemuan Kemenhut-AFoCO merupakan upaya diplomasi hijau dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto," kata Raja. Dia meyakini bahwa inisiatif ini dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Republik Korea, khususnya dalam mendorong kerja sama strategis di sektor kehutanan.

Apresiasi dan Peluang Kerja Sama

Dalam pertemuan tersebut, AFoCO menyampaikan apresiasi atas peran aktif Indonesia sebagai anggota organisasi sejak tahun 2019. Keanggotaan Indonesia dinilai telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan profil sektor kehutanan Indonesia di tingkat regional serta menjadi sarana efektif untuk mengampanyekan pembangunan kehutanan berkelanjutan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Direktur Eksekutif AFoCO menekankan peluang besar kerja sama ke depan, khususnya dalam pengembangan proyek karbon di Indonesia. "Potensi ini mencakup kawasan Perhutanan Sosial, Taman Nasional, serta area konsesi yang memerlukan dukungan dalam penyiapan proyek dan dokumen sertifikasi karbon," catat AFoCO.

Selain itu, AFoCO mengungkapkan bahwa organisasi tersebut tengah mengembangkan skema pendanaan campuran (blended finance) untuk mendukung kegiatan penanaman kembali lahan terdegradasi yang dapat diklaim sebagai proyek karbon. AFoCO juga telah memperoleh status sebagai entitas terakreditasi pada Green Climate Fund, membuka peluang lebih luas bagi Indonesia untuk mengakses pendanaan internasional dalam pengembangan proyek kehutanan berkelanjutan.

Dukungan pendanaan dari Rabobank untuk pengembangan proyek agroforestry carbon di kawasan Asia Pasifik juga diharapkan dapat direplikasi di Indonesia, memperkuat upaya konservasi dan ekonomi hijau.

Komitmen Indonesia dan Langkah Konkret

Menanggapi hal tersebut, Raja Juli Antoni menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berkontribusi aktif dalam pengembangan AFoCO, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan hutan tropis terluas di Asia. "Kemenhut berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dengan AFoCO dalam mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan proyek karbon yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat," janji Raja.

Sebagai langkah konkret, Menteri Kehutanan mengusulkan penguatan kelembagaan melalui penempatan Utusan Tetap (Permanent Representative) dari Kementerian Kehutanan di kantor pusat AFoCO. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas koordinasi dan komunikasi antar lembaga.

Berikutnya, Kementerian Kehutanan juga mengundang AFoCO untuk mendukung pengelolaan Hutan Adat seluas 1,4 juta hektare yang telah ditargetkan untuk dikelola dalam lima tahun ke depan. "Selain itu, dukungan AFoCO diharapkan dapat memperkuat pemberdayaan masyarakat pemegang izin Perhutanan Sosial, khususnya dalam mengatasi tantangan akses pendanaan awal dan pendampingan teknis dalam penyusunan program kegiatan," Raja menandasi.

Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk bekerja sama dalam mengatasi tantangan kehutanan global, sambil memanfaatkan potensi ekonomi hijau untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga