Kemenhut Resmi Luncurkan Platform MANDARA untuk Pengelolaan Data Mangrove Nasional
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) telah meluncurkan Platform Mangrove Data Nusantara (MANDARA) di Jakarta pada Selasa, 10 Februari 2026. Inisiatif ini bertujuan mengatasi masalah sinkronisasi data dan koordinasi lintas sektor dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia.
MANDARA sebagai Platform Data Terintegrasi
MANDARA merupakan Integrated Data Platform Mangrove (IDPM) yang dikembangkan sejak 2024 melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Platform ini dirancang sebagai sistem satu pintu untuk pengelolaan dan pertukaran data mangrove yang terintegrasi, mutakhir, dan mudah diakses.
Dalam sambutannya, Direktur Jenderal PDASRH Dyah Mutiningsih menyatakan bahwa peluncuran MANDARA adalah langkah strategis menuju transparansi dan integrasi data. "Kami ingin memastikan setiap kebijakan dan kolaborasi rehabilitasi pesisir didasarkan pada data yang akurat, terintegrasi, dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Dyah, seperti dilansir dari laman resmi Kemenhut RI.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 80 persen ekosistem mangrove eksisting di Indonesia berada di dalam kawasan hutan. Tingginya angka ini meningkatkan permintaan data dari berbagai pihak, termasuk akademisi, lembaga internasional, dan sektor swasta, sehingga mendorong kebutuhan sistem manajemen data yang andal melalui MANDARA.
Fungsi dan Peran Strategis MANDARA
MANDARA tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan data, tetapi juga sebagai alat pintar yang membuka ruang kolaborasi multipihak. Platform ini memfasilitasi kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional dalam rehabilitasi mangrove.
Sejak pengembangannya pada 2024, MANDARA telah digunakan untuk menyusun peta arahan kelembagaan yang menjadi acuan rehabilitasi mangrove nasional. Platform ini diharapkan dapat menetapkan standar baru untuk publikasi dan pertukaran data bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam penerapannya, MANDARA memiliki beberapa peran strategis, antara lain:
- Mendukung koordinasi dan distribusi data untuk penyusunan Peta Kawasan Mangrove dan Peta Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) secara lebih efisien dan presisi.
- Menyimpan berbagai lapisan data, termasuk data spasial (GIS), citra satelit resolusi tinggi, data tabular, dan dokumentasi teknis.
- Memungkinkan pemantauan penginputan data RHL Mangrove dari berbagai sumber anggaran secara transparan dan akuntabel.
- Menyediakan fitur komunikasi dua arah yang memungkinkan masyarakat menyampaikan laporan lapangan, kritik, dan saran untuk memperkuat tata kelola mangrove di daerah.
Dampak dan Implikasi Global
Keempat fungsi tersebut saling terhubung dalam satu sistem komprehensif yang meningkatkan kualitas pendataan dalam rehabilitasi mangrove nasional. Pendekatan ini diharapkan dapat mengoptimalkan efektivitas program RHL mangrove sekaligus meminimalkan tumpang tindih kebijakan dan potensi penyalahgunaan sumber daya.
Dengan kehadiran MANDARA, Indonesia semakin menegaskan perannya sebagai pemimpin global dalam perlindungan ekosistem karbon biru (blue carbon) dan mitigasi perubahan iklim berbasis solusi alam. Platform ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas dan mendukung upaya rehabilitasi pesisir yang lebih akurat dan berkelanjutan di masa depan.