Gita Septia Wardani (21) menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Sebelum kepergiannya, Gita sempat berkomunikasi dengan ayahnya, Ajun Junaedi (57), dan meminta dijemput dengan santai.
Kronologi Penemuan Tas Gita
Ajun Junaedi menceritakan saat mencari keberadaan anaknya, ia justru menemukan tas Gita terlebih dahulu. Tas tersebut berisi KTP, ponsel, hingga perlengkapan salat seperti sajadah dan mukena.
"Kalau tas, ya itu justru pas nyari itu (Gita), pas nyari lagi itu malah ketemunya tasnya sekitar jam 8 atau jam 10 lah. Tasnya masih utuh, tas isi KTP, handphone, ada charger, segala ada di dalam tas. Sajadah, mukena. Masyaallah," kata Ajun saat ditemui di rumah duka Gita di kawasan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Kamis (30/4/2026).
Pesan Singkat dari Gita
Gita sempat memberi kabar melalui pesan kepada Ajun bahwa ada kecelakaan KRL yang menabrak mobil taksi di Stasiun Bekasi Timur. Ia meminta ayahnya tidak usah buru-buru menjemputnya karena insiden tersebut.
"Dia itu masih ada kata-kata 'Ayah jemputnya santai aja karena ada kereta, ada kecelakaan nabrak mobil di depan aku. Aku di Bekasi Timur mungkin keretanya bisa ini dulu berhenti' gitu maksudnya," ujar Ajun menirukan percakapan Gita.
Proses Identifikasi Jenazah
Ajun kemudian menceritakan bagaimana ia akhirnya menemukan Gita di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia mengaku sempat terlambat saat mendengar nama Gita diumumkan sebagai korban yang teridentifikasi.
"Ke sanalah setengah tiga (sore). Setengah tiga di sana langsung didata terus minta DNA. Ditanya ciri-ciri anak kita dari baju, dari sepatu, dari rambut, dari wajah mungkin, dari gigi, apa gitu. Nah setelah itu dibilangin 'Nanti bapak hasilnya ada jam 5' gitu. Cuma pas jam 5 itu kita memang nggak dikasih tahu. Cuma pas tadi yang telah konfirmasi itu, ternyata nama Gita udah diumumin sebelum kita datang," kata Ajun.
Kebiasaan Gita Sehari-hari
Ibu Gita, Supriyanti (57), menjelaskan isi tas anaknya merupakan barang yang biasa dibawa saat berkuliah. Saat kejadian, Gita membawa tas kecil karena tidak membawa laptop.
"Iya (yang biasa dibawa) salah satunya, tapi biasa juga kalau pas bawa laptop juga tasnya yang gemblok (ransel) itu. Iya itu juga pakai itu, cuma saat itu nggak bawa laptop. Ini juga pakai yang tas biasa saja, paling bawa buku satu," katanya.
Supriyanti menambahkan bahwa Gita pulang dari kuliah malam hari karena persiapan acara kampus. "Itu juga mungkin pas pulang malam itu kan katanya mau ada event ya, jadi dia agak lama juga, kayaknya agak sore soalnya ayahnya WA itu kan dia bilang masih di kampus. Kemarin saya dengar kayaknya lagi mau ada event ya gitu dari kampus," ujarnya.
Kecelakaan Maut di Stasiun Bekasi Timur
Sebelumnya, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Peristiwa itu menyebabkan 16 orang meninggal dunia, termasuk Gita, dan 90 orang lainnya mengalami luka-luka.



