Jakarta - Kesehatan adalah anugerah yang paling berharga. Harapan untuk hidup sehat tentu dimiliki setiap orang, termasuk Muhammad Khalif Pratama, putra kedua dari pasangan Zainuri dan Ita Retno Sari. Di usianya yang ke-16 tahun, Alif harus menjalani hari-harinya hanya dengan berbaring di tempat tidur, tubuhnya tidak bisa tegak lurus. Ia juga kehilangan kemampuan untuk berbicara, sehingga komunikasi hanya dapat dilakukan melalui tatapan mata.
Kondisi Kritis Alif
Menurut penuturan sang ibu, Ita, saat ditemui tim berbuatbaik.id di kediamannya di Banyuasin, Sumatera Selatan, dokter menyatakan bahwa otak motorik Alif telah hancur. "Kemarin itu kata dokter, otak motoriknya hancur," ujar Ita dengan nada prihatin. Alif lahir dalam kondisi normal, sama seperti kakak dan adiknya. Namun, ketika usianya baru 26 hari, ia tiba-tiba batuk dan tubuhnya membiru, sehingga harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama empat hari. Keluarga tidak menaruh curiga dan membawa Alif pulang setelah rawat inap.
Perkembangan yang Terhambat
Kecurigaan mulai muncul setelah Alif berusia 3 bulan. Tumbuh kembangnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Alif tidak bisa tengkurap, tangannya mulai terbuka, dan kakinya semakin kuat menendang. Keluarga pun bolak-balik ke rumah sakit untuk mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat. Namun, hingga kini penyebab kerusakan otak Alif belum diketahui secara pasti. Ia tidak pernah mengalami jatuh atau sakit parah yang mengharuskan rawat inap sejak dini. Kerusakan otak ini berdampak pada fungsi organ lainnya, salah satunya infeksi paru akibat jamur yang tidak tuntas diobati.
Perawatan Alif
Saat ini, Alif menggunakan alat penghisap lendir yang dipasang di tenggorokan untuk mengeluarkan dahak yang sering kali muncul. Alat pompa atau suction pump digunakan setiap kali Alif batuk untuk menyedot dan mengeluarkan lendir. Pemasangan alat ini dilakukan saat Alif menjalani rawat inap pada 10 November 2025. Hasil diagnosis menunjukkan adanya flek dan jejak infeksi yang membuat kerja paru-paru tidak maksimal. Alif tidak mampu mengeluarkan dahak sendiri, sehingga harus bergantung pada suction pump.
Perubahan pada Alif
Sejak pemasangan alat tersebut, Alif tidak pernah lagi tersenyum atau tertawa, padahal sebelumnya ia sering melakukannya, terutama saat kakaknya datang dari Kalimantan, saat ada orang baru, atau saat berkumpul bersama keluarga. Ita, yang tidak pernah meninggalkan Alif sejak putranya sakit, merasakan perubahan ini dengan sangat berat.
Harapan Orang Tua
Meskipun kondisi Alif sangat memprihatinkan, orang tuanya tetap merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ita masih menyimpan harapan agar Alif bisa sembuh dan tumbuh seperti anak-anak lainnya, terlebih Alif kini beranjak dewasa dan seharusnya sibuk dengan sekolah dan aktivitas lainnya. "Harapannya biar sembuh, tidak apa-apa masih terus dirawat yang penting dia sehat. Kami mau ikuti saja jalannya, karena dari dokter tidak ada tindakan lagi. Hanya perawatan dan kontrol per bulan," kata Ita.
Kebutuhan Alif
Namun, memenuhi kebutuhan Alif selama perawatan bukanlah hal yang mudah. Alif membutuhkan popok sekali pakai ukuran 26 yang kadang habis dalam waktu 3 hari, air infus steril sebanyak dua botol per hari untuk membersihkan selang suction pump dan perlengkapan lainnya, serta asupan susu dan vitamin. Semua kebutuhan ini jelas tidak murah bagi keluarga prasejahtera dengan penghasilan yang pas-pasan.
Ajakan Donasi
Oleh karena itu, kami mengajak Sahabat Baik untuk bersama-sama membantu Alif menjalani perawatan dengan sebaik-baiknya. Kepedulian dari kita semua sangat berarti bagi kelangsungan hidup Alif dan keluarganya. Yuk, salurkan donasi untuk Alif melalui berbuatbaik.id, yang 100% tersalurkan untuk kebaikan.



