Nurlaela, seorang guru di SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur, menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Peristiwa tragis ini mengguncang dunia pendidikan dan keluarga besar almarhumah.
Profil Nurlaela: Guru Berdedikasi dan Pekerja Keras
Nurlaela, yang akrab disapa Bu Ela, tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 2019. Ia bertugas di SDN Pulogebang 11 sebagai guru kelas 2, sekaligus memegang tanggung jawab tambahan sebagai bendahara dan pengelola perpustakaan sekolah. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menyampaikan dedikasi tinggi almarhumah selama mengabdi. "Menurut kesaksian kepala sekolah dan teman-temannya, beliau sangat bertanggung jawab. Kita doakan semoga almarhumah husnul khotimah," ujar Nahdiana saat pemakaman di Cikarang, Selasa, 28 April 2026.
Paman korban, Mulyadi, menambahkan bahwa Nurlaela adalah pribadi yang ulet dan tidak banyak bicara. "Dia pekerja yang ulet, enggak banyak bicara, benar-benar kerja orangnya. Dia baru lulus S2 tiga bulan lalu di Universitas Negeri Jakarta," kenang Mulyadi. Nurlaela meninggalkan seorang anak tunggal yang kini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
Kronologi Kecelakaan dan Pencarian Korban
Saat kecelakaan terjadi, Nurlaela sedang dalam perjalanan pulang setelah mengajar di SD Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Keluarga di rumah mulai cemas ketika mendengar kabar kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Ponsel Nurlaela terus dihubungi, namun tidak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, nomor tersebut menghubungi balik, tetapi suara yang terdengar bukanlah suara Nurlaela, melainkan petugas yang mengabarkan bahwa ponselnya ditemukan di sekitar lokasi kecelakaan. Keberadaan Nurlaela saat itu belum diketahui.
"Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat orang lain dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," kata Mulyadi. Keluarga segera menuju lokasi dan setelah satu jam pencarian, Nurlaela ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazahnya kemudian dibawa ke rumah duka di Kampung Ceger, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB. Menurut Mulyadi, kondisi jenazah utuh meskipun mengalami patah kaki dan diduga luka dalam.
Dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan akan memberikan pendampingan penuh kepada keluarga korban. Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta menitipkan duka cita dan keprihatinan mendalam. Nahdiana menyatakan, "Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur menitipkan semua proses administrasi dan lain-lainnya, akan kami lakukan pendampingan terhadap anak yang satu, anak tunggalnya. Kami pesankan kepada suami, ibunda dan ananda, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan pendampingan, baik proses administrasi maupun psikososial."
Selain membantu pengurusan administrasi terkait status almarhumah sebagai pegawai negeri dan guru, Pemprov DKI juga akan memberikan pendampingan psikososial, terutama kepada anak tunggal korban yang masih duduk di bangku kelas enam SD. Keluarga besar berharap agar kejadian ini menjadi perhatian serius bagi perbaikan keselamatan perlintasan kereta api di Indonesia.



