Malam yang Memutih di SPBE Cimuning Bekasi Berujung Bencana Kebakaran Merah Membara
Malam Memutih di SPBE Cimuning Bekasi Berujung Bencana

Malam yang Memutih di SPBE Cimuning Bekasi Berujung Bencana Kebakaran Merah Membara

Malam di sekitar SPBE Cimuning, Kota Bekasi, Jawa Barat, awalnya tampak seperti malam-malam biasa dengan lampu rumah menyala dan aktivitas warga yang berjalan pelan menuju istirahat. Namun, tak ada tanda bahwa beberapa saat kemudian, kepanikan akan pecah dan memaksa orang-orang berlari meninggalkan segalanya. Semua bermula dari sesuatu yang nyaris dianggap sepele: bau gas yang merayap di udara.

Bau Gas yang Mengubah Suasana

Aroma gas datang perlahan, lalu semakin pekat, mengubah suasana dalam waktu singkat. Jalanan yang biasa dilalui warga disebut-sebut “memutih”, tertutup uap gas yang menyebar tanpa arah. Seorang warga mengungkapkan, “Asapnya sudah banyak, gasnya sudah bau. Saya langsung lari duluan.” Naluri mengambil alih, dengan pilihan sederhana: menyelamatkan anak dan istri terlebih dahulu, sementara rumah dan barang-barang ditinggalkan.

Kepanikan menjalar cepat, hampir serentak, dengan suara sirine yang mulai terdengar bersahutan. Orang-orang keluar rumah, sebagian berlari tanpa tujuan jelas, sementara yang lain mengikuti arus untuk menjauh dari sumber bau yang semakin mengkhawatirkan. Seorang ibu yang rumahnya dekat titik kejadian bercerita, “Kita lari ke kebun, jauh ke dalam. Semalaman di luar.” Kebun menjadi tempat perlindungan darurat di tengah gelap, dengan tanah dan pepohonan menyaksikan ketakutan warga.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ledakan dan Kobaran Api yang Tak Terkendali

Lalu, ledakan dahsyat datang, memecah udara diikuti kobaran api yang bergerak cepat. Api seolah mengikuti jejak gas yang sudah menyebar, melompat dari satu titik ke titik lain tanpa bisa dikendalikan. Seorang saksi menggambarkan, “Kayak bola api, nempel. Pokoknya ledakannya kaya petasan deh, gede banget suaranya.” Api menjalar, menyambar rumah-rumah warga, bahkan yang tidak berada tepat di dekat sumber kebakaran, mengubah permukiman menjadi area penuh ancaman.

Di tengah kekacauan, tak ada yang sempat memikirkan harta benda, hanya rasa takut dan keinginan untuk selamat yang tersisa. Seorang warga mengaku, “Saya saja lari sambil ketakutan, sampai nggak mikirin apa-apa lagi.” Kepanikan diperparah oleh adanya orang yang merekam atau menyiarkan langsung kejadian saat situasi belum terkendali, menambah emosi warga yang sedang panik.

Dampak dan Keluhan Warga

Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 12 orang mengalami luka bakar serius dan harus dirawat di berbagai rumah sakit. Banyak warga lain memilih mengungsi dan baru kembali ke rumah keesokan harinya. Bagi sebagian warga, bau gas sebenarnya bukan hal baru, karena aktivitas pengisian gas di sekitar lokasi kerap menimbulkan aroma yang sudah dianggap biasa. Namun, malam itu berbeda dengan kebocoran yang membuat gas menyebar luas, menciptakan kondisi jauh lebih berbahaya.

Warga juga menyoroti persoalan lama: kedekatan fasilitas gas dengan permukiman. Seorang warga berpendapat, “Harusnya kalau kayak gini di tengah sawah, jangan di sini.” Kawasan tersebut awalnya adalah permukiman yang belum terlalu padat, tetapi seiring waktu, jumlah penduduk meningkat sementara fasilitas industri tetap berada di lokasi yang sama. Penolakan dari warga pernah ada, namun tidak membuahkan perubahan.

Trauma dan Hilangnya Rasa Aman

Setelah kebakaran, warga menghadapi kesulitan pascakejadian, dari kehilangan barang, mengungsi, hingga proses pendataan bantuan yang belum sepenuhnya jelas. Sebagian warga mengaku masih kebingungan terkait bantuan yang diterima, dengan informasi ganti rugi yang belum pasti. Yang paling terasa adalah hilangnya rasa aman, karena peristiwa di Cimuning menjadi pengingat keras bahwa risiko seperti bau gas dan aktivitas industri di dekat rumah dapat berubah menjadi bencana dalam sekejap.

Bagi warga yang malam itu berlari tanpa arah, pengalaman tersebut bukan sekadar cerita, melainkan trauma yang masih membekas hingga hari ini, menggarisbawahi urgensi penanganan fasilitas berbahaya di dekat permukiman.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga