Amnesty International Soroti Situasi HAM Global yang Makin Suram dan Pelanggaran HAM Meningkat
Amnesty International: Situasi HAM Global Makin Suram

Amnesty International Gambarkan Situasi HAM Global Makin Suram

Laporan tahunan Amnesty International untuk tahun 2025 telah dirilis, menggambarkan situasi hak asasi manusia (HAM) di seluruh dunia yang semakin suram. Organisasi pemantau HAM ini menyoroti peningkatan pelanggaran HAM yang dilakukan baik oleh negara maupun pihak non-negara, dengan sebagian besar pelaku tidak mendapatkan hukuman yang setimpal.

Kritik Terhadap Pemimpin Dunia dan Konflik di Iran

Dalam "Laporan Amnesty 2025", organisasi ini mengecam para pemimpin politik seperti Donald Trump dari Amerika Serikat, Vladimir Putin dari Rusia, dan Benjamin Netanyahu dari Israel, yang dituduh melakukan upaya dominasi ekonomi dan politik melalui penghancuran, penindasan, dan kekerasan dalam skala besar. Julia Duchrow, Sekretaris Jenderal Amnesty International di Jerman, dalam wawancara dengan Deutsche Welle, menyebut konflik di Iran sebagai isu paling mendesak.

Duchrow menjelaskan bahwa masyarakat Iran menghadapi ancaman ganda: serangan terhadap sipil dan infrastruktur oleh AS dan Israel yang melanggar hukum internasional, serta penindasan oleh pemerintah Iran sendiri yang telah menyebabkan ribuan kematian. Ia menegaskan bahwa rezim di Teheran hanya dapat digulingkan jika hukum internasional dihormati, dan serangan yang melanggar hukum justru memperburuk situasi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Runtuhnya Tatanan Dunia Berbasis Aturan

Laporan ini menyatakan bahwa tidak hanya AS, Rusia, dan Israel yang menjauh dari tatanan dunia lama, tetapi banyak negara lain juga membelot dari sistem politik yang berlandaskan aturan internasional. Amnesty mengingatkan bahwa tatanan dunia pasca-Holocaust dan Perang Dunia telah dibangun selama 80 tahun, meski masih perlu disempurnakan.

Negara-negara yang berkomitmen pada demokrasi dan supremasi hukum seringkali tampak tak berdaya dan harus berkompromi dalam kebijakan. Namun, Amnesty menolak anggapan bahwa tatanan dunia telah runtuh, dengan mengapresiasi kerja diplomat dan aktivis sejak 1945, termasuk penerapan Deklarasi HAM dan Konvensi Genosida pada 1948.

Sorotan Khusus pada AS, Israel, dan Rusia

Amnesty International secara khusus mengkritik pemerintahan AS di bawah Donald Trump, yang melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio menguraikan visi aliansi negara Barat dari peradaban Kristen, yang dianggap mengabaikan sejarah dan berpotensi melanggengkan dominasi dan kolonialisme.

Israel juga dikritik atas tindakannya terhadap Palestina, dengan laporan menyatakan bahwa mekanisme perlindungan internasional telah gagal, dan rakyat Palestina masih mengalami genosida, diskriminasi, dan penjajahan. Sementara itu, Rusia dituduh terus melakukan kejahatan kemanusiaan di Ukraina.

Harapan dari Keterlibatan Masyarakat Sipil

Meski tren pelanggaran HAM berlanjut dan berpotensi memicu konflik baru, laporan ini mencatat secercah harapan. Beberapa negara Uni Eropa menolak ikut serta dalam serangan AS dan Israel terhadap Iran, berkomitmen pada keamanan strategis. Julia Duchrow juga optimis, menyebut contoh seperti protes di Iran, penggulingan pemerintahan Viktor Orbán di Hungaria melalui pemilu, dan pembebasan tahanan politik seperti Maria Kolesnikova di Belarus.

Maria Kolesnikova, musisi dan aktivis HAM Belarus, dibebaskan pada Desember 2025 setelah lima tahun dipenjara, menjadi simbol perjuangan HAM yang terus berlanjut. Laporan Amnesty International ini mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat sipil dalam memperbaiki tatanan dunia yang rapuh.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga