Ingatan tentang pandemi Covid-19 belum sepenuhnya menghilang. Wajar jika muncul kekhawatiran dari masyarakat saat mendengar hantavirus menyebar di kapal pesiar internasional. Kapal pesiar bernama MV Hondius itu jadi tempat hantavirus menyebar. Saat artikel ini ditulis, virus itu telah menewaskan sedikitnya tiga orang dan menginfeksi beberapa lainnya dari April hingga Mei 2026.
Kapal tersebut telah berlabuh di Pelabuhan Granadilla, Tenerife, Spanyol. Dari sana, penumpang dan awak kapal dengan total 147 orang dipulangkan ke negara asal mereka, termasuk Jerman, Prancis, dan Australia. Kekhawatiran warga turut diamini oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam suratnya kepada warga Tenerife, Spanyol, pada 9 Mei 2026.
"Saya tahu Anda khawatir," tulisnya. "Saya tahu ketika Anda mendengar kata 'wabah' dan menyaksikan sebuah kapal berlayar menuju pantai Anda, ingatan-ingatan yang belum sepenuhnya kita lupakan akan muncul kembali," sambungnya.
Pelajaran dari Pengendalian Wabah Hantavirus di Argentina 2018-2019
Namun, ada perbedaan signifikan antara Covid-19 dan hantavirus. "Hantavirus, termasuk virus Andes, secara fundamental berbeda dari coronavirus," kata Roman Wölfel, kepala Institut Mikrobiologi Bundeswehr, kepada DW. "Virus ini bisa menular dari orang ke orang, tetapi jauh lebih sulit dan hanya melalui kontak yang sangat dekat."
Ketika coronavirus SARS-CoV-2 muncul pada 2019 dan menyebabkan Covid-19, baik ilmuwan kesehatan masyarakat maupun tenaga kesehatan belum pernah melihatnya sebelumnya. Tidak ada yang tahu virus tersebut, seberapa cepat penyebarannya, hingga cara menghentikan atau mengobatinya. Hantavirus, di sisi lain, sudah dikenal sejak 1993.
Karena virus ini diketahui menyebabkan infeksi paru-paru yang disebut Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Sindrom Paru Hantavirus, langkah-langkah jaga jarak yang tepat langsung diterapkan di kapal, begitu tes laboratorium mengonfirmasi virus ini menyebabkan dua kematian pertama.
Sebuah analisis terhadap wabah hantavirus di Argentina pada November 2018 menunjukkan betapa efektifnya langkah-langkah pengendalian dasar, seperti jaga jarak sosial, dalam memperlambat penyebaran infeksi dari orang ke orang. Saat pandemi Covid-19 terjadi, publik tidak memiliki pengetahuan terkait virus tersebut. Bahkan hingga hari ini, masyarakat dunia juga masih belum tahu persis dari mana virus itu berasal.
Dalam makalah yang diterbitkan pada 2020, para peneliti menjelaskan bagaimana kecepatan penularan virus Andes, varian yang sama dengan yang ada di kapal pesiar MV Hondius, berkurang setengahnya ketika "pejabat kesehatan masyarakat memberlakukan isolasi terhadap orang-orang dengan kasus terkonfirmasi dan karantina mandiri untuk kontak yang mungkin terpapar" selama wabah 2018-2019 di Argentina. Langkah-langkah pengendalian diberlakukan setelah pihak berwenang mengonfirmasi 18 orang terinfeksi virus Andes dalam sebuah pertemuan massal.
"Langkah-langkah ini kemungkinan besar membatasi penyebaran lebih lanjut," tulis para peneliti dalam New England Journal of Medicine. "Angka reproduksi median (jumlah kasus sekunder yang disebabkan oleh orang yang terinfeksi selama periode infeksius) adalah 2,12 sebelum langkah-langkah pengendalian diberlakukan dan turun menjadi 0,96 setelah langkah-langkah tersebut diterapkan."
Situasi di MV Hondius Berbeda dengan Kejadian di Argentina
Dalam kasus MV Hondius, langkah-langkah pengendalian membutuhkan waktu lebih lama untuk diberlakukan, meskipun jumlah kasus yang diketahui lebih sedikit dibanding wabah di Argentina, yakni tujuh kasus terkonfirmasi dan dua kasus dugaan, per 11 Mei 2026. Setelah orang pertama meninggal pada 11 April, Oceanwide Expeditions, perusahaan yang mengoperasikan kapal, menyatakan bahwa baru pada 4 Mei hantavirus dikonfirmasi sebagai penyebab kematian. Itu dua hari setelah WHO diberitahu bahwa ada "klaster" orang terinfeksi di kapal.
Meski begitu, ketika MV Hondius berlabuh di Tenerife, sudah tidak ada keraguan tentang penyebab infeksi dan otoritas kesehatan Spanyol memastikan bahwa mereka mengambil "semua langkah" untuk mencegah penyebaran hantavirus. Penumpang, awak kapal, dan otoritas kesehatan mengenakan masker wajah dan pakaian pelindung diri, sementara barang-barang pribadi dibawa dalam kantong tertutup rapat.
"Mengurangi kontak potensial dan penggunaan masker FFP2 untuk penumpang serta orang-orang yang mungkin berkontak dengan mereka selama prosedur turun dari kapal dan transportasi ke negara asal didukung oleh apa yang kita ketahui tentang virus ini," kata Giulia Gallo, peneliti di The Pirbright Institute, Inggris.
Dipercaya Tidak seperti Covid-19
Meskipun kekhawatiran dapat dipahami, Wölfel mengatakan skenario serupa Covid-19 tidak mungkin terjadi. "Tidak diharapkan bahwa virus Andes akan menjadi masalah global yang sesungguhnya. Ini tidak sebanding dengan influenza atau coronavirus SARS," katanya. Secara umum, infeksi hantavirus relatif jarang terjadi secara global. Pada 2025, WHO mendokumentasikan 229 kasus dan 59 kematian di kawasan Amerika. Belum ada vaksin untuk penyakit menular ini.
Dilansir dari detik.com, Indonesia juga sempat mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis seoul dalam tiga tahun terakhir. Dari 23 pasien yang terpapar, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Case fatality rate (CFR) relatif tinggi dengan angka 13%. Pada 2026, terdapat tambahan lima kasus. Selebihnya, pasien sudah dinyatakan sembuh.



