Psikolog: Bullying Bukan Kenakalan Biasa, Dampaknya Serius pada Kesehatan Mental
Psikolog: Bullying Bukan Kenakalan Biasa, Dampak Serius Mental

Kasus dugaan perundungan di MAN 3 Padang menjadi pengingat bahwa bullying bukan sekadar kenakalan remaja atau saling mengejek antarteman. Psikolog Arnold Lukito menilai perundungan harus ditangani secara serius karena dapat berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan sosial korban.

Dampak Bullying pada Kesehatan Mental dan Sosial

Menurut Arnold, bullying adalah pengalaman sosial yang membuat anak merasa tidak aman, tidak diterima, dan tidak punya kendali. "Bila terjadi terus menerus, anak bisa hidup dalam kondisi waspada dan merasa lingkungan sosial sebagai tempat yang mengancam. Dampaknya bisa masuk ke banyak area seperti harga diri, emosi, relasi pertemanan, motivasi belajar, dan kesehatan mental," kata dia kepada Liputan6.com, Sabtu (18/7/2026).

Arnold mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan masa remaja adalah periode penting dalam perkembangan emosi dan sosial, sehingga pengalaman kekerasan dan perundungan bisa menjadi faktor risiko bagi kesehatan mental. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mencatat remaja korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan depresi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pesan yang Tertanam pada Korban Bullying

"Yang paling melukai dari bullying sering kali bukan hanya kata-kata atau tindakan, tapi pesan yang tertanam dalam diri anak 'saya tidak aman, saya tidak berharga, dan tidak ada yang menolong saya'. Jika pesan ini dibiarkan terlalu lama, anak bisa menjadi sangat menarik diri, dan bisa menyimpan kemarahan dan fantasi untuk membalas," jelas Arnold. Ia menekankan penanganan bullying tidak cukup dengan nasihat 'abaikan saja' atau 'kamu harus kuat'. "Anak perlu dilindungi, didengarkan, dipulihkan rasa amannya, dan bila perlu dirujuk ke profesional."

Perbedaan Bullying dengan Konflik Biasa

Arnold menegaskan bullying tidak boleh dipandang sebagai kenakalan remaja biasa. Menurutnya, bullying berbeda dengan konflik antarteman karena melibatkan ketimpangan kekuasaan, dilakukan berulang, dan membuat korban sulit membela diri. "Bullying terjadi ketika ada ketimpangan kuasa (power), dilakukan berulang, dan korban sulit membela diri. Karena itu, menyebut bullying sebagai 'kenakalan biasa' bisa membuat korban merasa penderitaannya tidak dianggap serius," jelas dia.

Dampak Jangka Panjang dan Peran Sekolah

Arnold mengingatkan dampak jangka panjang bullying dapat berupa depresi, gangguan kecemasan, rasa malu berkepanjangan, gangguan tidur, penurunan prestasi belajar, kesulitan membangun kepercayaan kepada orang lain, hingga munculnya keinginan menyakiti diri sendiri. "Sekolah juga perlu melihat bullying sebagai isu keselamatan dan kesehatan mental, bukan sekadar pelanggaran aturan sekolah. Perlu ada sistem pelaporan yang aman, perlindungan korban, konsekuensi yang jelas bagi pelaku, edukasi bagi murid, dan pemantauan setelah kasus ditangani," kata Arnold.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga