Riset UI Ungkap Kaitan Emosi dengan Jeratan Pinjol dan Investasi Bodong
Emosi Picu Jeratan Pinjol dan Investasi Bodong, Riset UI

Riset Doktoral UI Ungkap Hubungan Emosi dengan Perilaku Keuangan Berisiko

Hasil penelitian mendalam dari mahasiswa jenjang doktor Universitas Indonesia (UI) telah mengungkap adanya korelasi signifikan antara kondisi emosi seseorang dengan peningkatan kemungkinan terjerat dalam praktik pinjaman online (pinjol) maupun investasi berisiko tinggi. Riset ini dilakukan oleh Miriam Rustam, mahasiswa program doktor di Fakultas Psikologi UI, yang fokus meneliti mekanisme psikologis di balik keputusan keuangan yang berpotensi merugikan.

Kerugian Triliunan Rupiah Akibat Pinjol dan Investasi Bodong

Dalam paparannya, Miriam menyoroti besarnya kerugian finansial yang ditimbulkan oleh fenomena ini. Data menunjukkan bahwa kerugian akibat investasi bodong telah mencapai angka fantastis, yaitu Rp140 triliun sejak tahun 2017. Sementara itu, sektor pinjol menyumbang kerugian yang tidak kalah besar, yakni Rp120 triliun hanya pada tahun 2023 saja. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi untuk memahami faktor-faktor psikologis yang mendorong individu terlibat dalam skema keuangan berisiko tersebut.

Mekanisme Psikologis di Balik Keputusan Keuangan Berisiko

Penelitian ini berfokus pada analisis mendalam mengenai bagaimana emosi memengaruhi perilaku keuangan. Miriam Rustam mengeksplorasi peran paralel antara emosi antisipatif, yaitu perasaan yang muncul sebelum mengambil keputusan, dan emosi yang diantisipasi, yakni perasaan yang diperkirakan akan dialami setelah keputusan diambil. Disertasinya yang berjudul “Peran Paralel Emosi Antisipatif dan Emosi yang Diantisipasi dalam Perilaku Keuangan Berisiko dengan Tingkat Konstrual Sebagai Moderator” mengungkap bahwa individu dengan kondisi emosi tertentu, seperti stres atau euforia, cenderung lebih rentan terhadap godaan pinjol atau investasi bodong.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Riset ini juga menyoroti pentingnya tingkat konstrual, yaitu cara seseorang memandang suatu situasi, sebagai faktor moderator. Individu yang memiliki tingkat konstrual rendah, cenderung fokus pada detail jangka pendek, lebih mudah terpengaruh oleh emosi sesaat dan terjebak dalam tawaran keuangan yang tampak menguntungkan namun berisiko tinggi. Sebaliknya, mereka dengan tingkat konstrual tinggi, yang melihat gambaran besar jangka panjang, biasanya lebih mampu mengendalikan emosi dan membuat keputusan keuangan yang lebih rasional.

Implikasi untuk Edukasi dan Regulasi Keuangan

Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi penting bagi upaya pencegahan dan penanganan masalah pinjol serta investasi bodong di Indonesia. Dengan memahami kaitan antara emosi dan perilaku keuangan, pihak berwenang dan lembaga edukasi dapat mengembangkan program literasi keuangan yang lebih efektif, yang tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pengelolaan emosi dan pengambilan keputusan yang bijak. Pendekatan psikologis ini diharapkan dapat membantu masyarakat lebih kebal terhadap godaan skema keuangan yang berpotensi merugikan.

Penelitian Miriam Rustam ini merupakan kontribusi berharga dalam bidang psikologi keuangan, yang semakin relevan di tengah maraknya kasus pinjol dan investasi bodong di tanah air. Dengan volume analisis yang mendalam, riset ini menawarkan wawasan baru untuk mengatasi tantangan keuangan masyarakat secara lebih holistik dan berbasis bukti ilmiah.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga