Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) berhasil mengembangkan riset sel punca yang menawarkan solusi pemulihan bagi pasien jantung. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi terobosan dalam penanganan penyakit jantung koroner yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Harapan Baru bagi Pasien Jantung
Penyakit jantung koroner terjadi akibat penyempitan pembuluh darah yang memasok oksigen ke jantung. Kondisi ini sering menyebabkan serangan jantung dan gagal jantung. Terapi konvensional seperti operasi bypass atau pemasangan stent memang efektif, tetapi tidak dapat memperbaiki jaringan jantung yang rusak. Riset sel punca menawarkan pendekatan regeneratif dengan memperbaiki dan meregenerasi sel-sel jantung yang rusak.
Mekanisme Terapi Sel Punca
Sel punca yang digunakan dalam riset ini berasal dari jaringan lemak pasien sendiri. Setelah diisolasi dan dikultur di laboratorium, sel punca disuntikkan kembali ke area jantung yang rusak. Sel-sel ini kemudian berdiferensiasi menjadi sel otot jantung baru dan merangsang pembentukan pembuluh darah baru, sehingga meningkatkan fungsi jantung secara keseluruhan.
Tim peneliti FKUI yang dipimpin oleh Dr. Andi Wijaya, Sp.JP(K), telah melakukan uji coba pada hewan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Fungsi ventrikel kiri jantung meningkat signifikan setelah terapi. Saat ini, riset sedang memasuki tahap uji klinis fase awal pada manusia.
Potensi dan Tantangan
Meskipun hasil awal positif, masih ada tantangan yang harus diatasi. Salah satunya adalah memastikan sel punca mencapai target dan bertahan hidup di lingkungan jantung yang rusak. Selain itu, biaya terapi yang masih tinggi menjadi kendala untuk penerapan luas. Namun, dengan pengembangan teknologi dan produksi massal, biaya diharapkan dapat ditekan.
Riset ini didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi serta beberapa rumah sakit mitra. Jika uji klinis berhasil, terapi sel punca ini dapat menjadi alternatif bagi pasien yang tidak memungkinkan menjalani operasi besar. Dr. Andi berharap dalam lima tahun ke depan, terapi ini dapat tersedia di Indonesia.
Inovasi ini menjadi angin segar bagi dunia kesehatan jantung di Indonesia. Dengan pendekatan regeneratif, kualitas hidup pasien jantung dapat meningkat drastis, mengurangi angka kematian dan kecacatan akibat penyakit jantung.



