Baru-baru ini, sejumlah menu kantin sekolah di Amerika Serikat mendapat sorotan tajam dari para ahli gizi karena dinilai belum memenuhi standar nutrisi yang dibutuhkan anak-anak. Menu seperti sayap ayam pedas, taco, pizza, biskuit sosis, hingga smoothie untuk sarapan mungkin menjadi favorit para siswa, namun kandungan gizinya memprihatinkan. Dilansir Kompas.com dari U.S News pada Rabu (29/7/2026), sebuah studi terbaru mengungkap bahwa beberapa makanan populer di kantin sekolah AS mengandung gula tambahan dan natrium dalam jumlah tinggi.
Menu Favorit yang Tinggi Gula dan Garam
Menu-menu yang biasa disajikan di kantin sekolah sering kali dirancang untuk menarik minat siswa, tetapi tidak selalu mempertimbangkan aspek kesehatan. Sayap ayam pedas misalnya, kaya akan natrium dari bumbu dan saus. Pizza dengan keju dan daging olahan juga menyumbang lemak jenuh dan garam. Biskuit sosis mengandung lemak trans dan natrium tinggi. Smoothie sarapan, meskipun terlihat sehat, sering kali ditambahi gula sirup jagung fruktosa tinggi sehingga kalorinya melonjak. Studi tersebut menekankan bahwa konsumsi gula dan natrium berlebih pada anak dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi di kemudian hari.
Standar Gizi yang Harus Dipenuhi
Di Amerika Serikat, program makan sekolah (National School Lunch Program) telah menetapkan pedoman gizi yang ketat, seperti batasan kalori, lemak jenuh, dan natrium. Namun, implementasi di lapangan sering kali tidak sesuai. Menu yang disajikan di kantin tidak selalu mematuhi standar tersebut. Ahli gizi dari berbagai universitas mendesak pihak sekolah untuk mereformulasi resep dan bahan baku. Misalnya, mengganti keju penuh lemak dengan rendah lemak, menggunakan daging tanpa lemak, serta mengurangi gula dalam smoothie dengan memperbanyak buah segar.
Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Anak
Kebiasaan makan sejak dini sangat berpengaruh pada pola makan di masa dewasa. Jika anak-anak terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan natrium, mereka cenderung mempertahankan kebiasaan tersebut. Hal ini berkontribusi pada epidemi obesitas anak di AS, yang menurut data CDC mencapai 19,7% pada anak usia 6-11 tahun. Studi dari U.S News menyoroti bahwa perbaikan menu kantin sekolah bisa menjadi intervensi efektif untuk menurunkan angka tersebut. Para peneliti menyarankan agar kantin menyediakan lebih banyak sayur, buah, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak.
Upaya Reformulasi Menu Kantin
Beberapa sekolah di AS sudah mulai mengubah menu mereka. Misalnya, dengan menyajikan sayap ayam panggang sebagai pengganti goreng, pizza dengan adonan gandum utuh dan keju rendah lemak, serta smoothie tanpa tambahan gula. Namun, tantangannya adalah menjaga agar makanan tetap enak dan disukai siswa. Ahli gizi menekankan bahwa edukasi gizi juga perlu diberikan agar siswa memahami pentingnya makanan sehat. Kolaborasi antara ahli gizi, koki sekolah, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan program ini.
Peran Pemerintah dan Orang Tua
Pemerintah federal AS melalui USDA terus memperbarui pedoman nutrisi untuk makanan sekolah. Namun, penerapan di tingkat lokal seringkali bergantung pada anggaran dan sumber daya sekolah. Orang tua juga dapat berperan dengan mendukung kebijakan kantin sehat dan mendorong anak-anak memilih makanan bergizi. Studi ini menjadi pengingat bahwa makanan yang disukai anak belum tentu baik untuk kesehatan mereka. Reformulasi menu kantin sekolah adalah langkah kecil namun signifikan dalam membangun generasi yang lebih sehat.



