DPR Soroti Puluhan Kasus Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis
Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Pulung Agustanto, menyoroti masih tingginya angka kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengungkapkan, sepanjang Januari 2026 saja, tercatat sekitar 50 insiden keracunan yang diduga terkait dengan konsumsi makanan dari program tersebut.
Pulung menegaskan bahwa pengelola MBG, terutama Badan Gizi Nasional (BGN), harus lebih serius dalam memperhatikan tata kelola program. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. "Bagaimana bisa melangkah ke makanan bergizi, jika soal makanan layak konsumsi saja masih menjadi masalah," ujar Pulung pada Selasa, 26 Februari 2026.
Kritik Terhadap Alokasi Anggaran dan Dampaknya
Politikus dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga mengkritik sumber anggaran MBG yang sebagian besar diambil dari anggaran pendidikan. Dalam APBN 2026, total anggaran pendidikan mencapai Rp769 triliun, dengan sekitar Rp223 triliun dialokasikan khusus untuk program MBG.
"Artinya, dengan adanya MBG ini, mau tidak mau banyak program pendidikan lain yang tidak kebagian anggaran. Kasus-kasus keracunan MBG di berbagai sekolah sudah pasti sangat menyakiti dunia pendidikan kita," tegas Pulung. Ia menilai bahwa dana APBN yang dihabiskan untuk program ini sangat besar, sehingga jika output-nya masih bermasalah, hal tersebut menjadi pemborosan yang signifikan.
Pentingnya Manajemen dan Transparansi yang Memadai
Pulung mengakui bahwa tujuan pemerintah untuk memperbaiki gizi masyarakat melalui MBG memang baik. Namun, ia menekankan bahwa tujuan tersebut harus dibarengi dengan kemampuan manajemen dan tata kelola yang memadai.
"Yang dibutuhkan sekarang ini adalah kecakapan manajemen, tata kelola dapur, transparansi alokasi anggaran, dan berbagai hal teknis lainnya. Bukan hanya slogan tentang memberi makan rakyat," kata Pulung. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak bisa diukur semata dari jumlah penerima manfaat.
"Percuma kuantitas kalau kualitasnya masih jadi persoalan," pungkasnya, menekankan pentingnya fokus pada kualitas pelayanan dan keamanan makanan dalam program ini.
