KOMPAS.com - Selama ini masyarakat sering kali menganggap para centenarian, orang-orang yang berhasil hidup melampaui usia 100 tahun, memiliki kategori biologis yang berbeda. Banyak yang meyakini bahwa sel-sel tubuh mereka menua jauh lebih lambat dibandingkan manusia pada umumnya.
Namun, hasil penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh New England Centenarian Study di Boston University membantah asumsi tersebut. Studi yang telah melacak kehidupan orang-orang berusia di atas 100 tahun sejak tahun 1994 ini merupakan penelitian terbesar sekaligus terlama di dunia untuk kategori tersebut.
Temuan Utama Studi
Penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa centenarian memiliki mekanisme penuaan sel yang lebih lambat. Sebaliknya, mereka mungkin memiliki faktor lain yang berkontribusi terhadap umur panjang, seperti genetika yang unik, gaya hidup sehat, atau ketahanan terhadap penyakit kronis.
Metodologi Penelitian
New England Centenarian Study melibatkan ribuan partisipan yang berusia 100 tahun ke atas. Para peneliti mengumpulkan data medis, genetik, dan gaya hidup secara berkala. Analisis menunjukkan bahwa meskipun centenarian memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit terkait usia, proses penuaan seluler mereka tidak berbeda secara signifikan dari populasi umum.
- Studi ini adalah yang terbesar dan terlama di dunia dalam kategori centenarian.
- Data dikumpulkan sejak 1994 hingga sekarang.
- Partisipan meliputi berbagai latar belakang etnis dan geografis.
Implikasi Temuan
Temuan ini mengubah paradigma tentang penuaan. Alih-alih berfokus pada perlambatan penuaan sel, penelitian ini mendorong eksplorasi lebih dalam tentang faktor protektif yang memungkinkan centenarian mencapai usia ekstrem. Hal ini membuka peluang untuk pengembangan intervensi yang dapat memperpanjang kesehatan manusia secara umum.



