Jagat media sosial dihebohkan oleh video dua pria yang sekujur tubuhnya dilakban hingga menyerupai karakter Teletubbies, Tinky Winky. Narasi yang beredar menyebutkan bahwa mereka adalah maling yang tertangkap dan dihukum oleh warga. Namun, faktanya berbeda. Kedua pria tersebut bukanlah pencuri, melainkan konten kreator asal Malang, Jawa Timur.
Klarifikasi dari Pembuat Video
Syahroni Muhammad, anggota kelompok konten kreator asal Malang, memberikan klarifikasi bahwa video tersebut hanyalah konten humor. Ia bersama rekannya, Feri Wedon, kerap membuat video lucu untuk platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Video dilakban itu dibuat sebagai respons terhadap tantangan dari penonton saat siaran langsung.
“Ini aku sama temenku, namanya Feri Wedon, aku sama Feri Wedon ini konten kreator,” kata Syahroni saat dihubungi detikcom pada Kamis (2/7/2026). Ia menjelaskan bahwa saat live TikTok, ada penonton yang memberikan gift dan menantang mereka untuk melakban seluruh tubuh. Setelah selesai, mereka juga diminta makan terasi sehingga terlihat kesakitan.
Video Dicomot dan Dipelintir
Masalah muncul ketika video tersebut diambil dan diunggah ulang oleh akun Instagram bernama 'Harian Kampung'. Akun itu mengedit video dan menambahkan narasi palsu bahwa kedua pria tersebut adalah maling yang dihukum menjadi Tinky Winky. Narasi ini kemudian viral dan menimbulkan persepsi salah di masyarakat.
“Akhirnya diambil akun IG, namanya 'Harian Kampung'. Di situ dikasih narasi yang nggak bermutu dan nggak sesuai, akhirnya viral, rame semua media sosial,” ujar Syahroni. Ia menegaskan bahwa mereka adalah konten kreator dari Batre TV YouTube, bukan maling.
Reaksi Warganet
Mayoritas warganet yang melihat video tersebut awalnya memberikan reaksi tawa. Namun, setelah klarifikasi beredar, banyak yang menyayangkan tindakan akun yang memelintir fakta. Video yang seharusnya menjadi hiburan justru disalahartikan sebagai hukuman bagi pencuri.
Syahroni berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Ia juga mengimbau agar warganet tidak langsung percaya pada narasi yang belum terverifikasi kebenarannya.



