Di sebuah studio lukis sederhana yang terletak di Widodomartani, Sleman, suara gesekan kuas Mbah Kibar di atas kanvas terdengar pelan namun penuh ketegasan, seolah mengikuti detak waktu yang semakin mendesak. Di hadapannya, warna-warna hidup berpadu membentuk karya, namun di baliknya, tersimpan kegelisahan yang tak pernah sirna. Suhardiyono, atau yang akrab disapa Mbah Kibar, adalah seorang pria sepuh berusia 76 tahun yang tangannya tak lagi muda, namun tetap luwes menorehkan goresan demi goresan penuh makna.
Perjuangan Melawan Waktu Demi Warisan Leluhur
Di usia senjanya, ketika banyak orang memilih beristirahat, Mbah Kibar justru berpacu dengan waktu. Setiap lukisan yang ia hasilkan bukan sekadar karya seni, melainkan ikhtiar untuk menyelamatkan tanah warisan keluarga yang kini terancam disita akibat utang ratusan juta rupiah. "Yang berhutang adalah keluarga saya, tapi agunannya menggunakan tanah saya, tanah warisan dari Mbah Buyut saya, sebenarnya eman-eman (sayang) banget kalau disita Bank, makanya saya pertahankan," ujar Mbah Kibar melalui pendampingnya, Atsir Mahatma Adam.
Sejak akhir 2024, hidup Mbah Kibar berubah drastis. Tanah yang ia jaga sepanjang hidupnya tiba-tiba menjadi jaminan utang keluarga yang tak pernah ia nikmati. Di tengah kondisi itu, hadir sosok Atsir Mahatma Adam yang menjadi pendampingnya, membantu memperbaiki tempat tinggal yang tak layak huni dan memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Namun, ancaman lelang semakin dekat dengan total kewajiban mencapai sekitar Rp 536 juta akibat akumulasi bunga.
Peluang Terakhir dari Bank
Bank memberikan satu peluang terakhir untuk keringanan. "Apabila Mbah Kibar bisa melunasi Rp 400 juta di bulan April ini, maka hutang yang aslinya Rp 536 juta akan dianggap lunas," jelas Atsir. Batas waktu itu menjadi garis akhir perjuangan Mbah Kibar, sebuah perlombaan melawan waktu yang hanya bisa ia tempuh dengan satu cara: melalui goresan lukisannya yang penuh dedikasi.
Akarnya di Kota Seni Yogyakarta
Kecintaan Mbah Kibar pada seni lukis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh di Yogyakarta, kota yang sejak lama dikenal sebagai pusat kebudayaan dan seni rupa di Indonesia. Sejak kecil, ia terbiasa menyaksikan aktivitas para seniman, termasuk demonstrasi melukis dari maestro besar Indonesia, Affandi. Ia juga kerap menghabiskan waktu melihat para pelukis poster film bekerja, bahkan rela menunggu hingga malam hari untuk menyaksikan proses kreatif tersebut.
Bagi Mbah Kibar, melukis bukan sekadar pekerjaan. "Melukis bagi saya adalah kehidupan, saya tidak memandang lukisan sebagai media mencari uang," tuturnya. Bakatnya mulai terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar di Maguwoharjo, dengan dukungan keluarga menjadi awal perjalanan panjangnya sebagai pelukis. Kini, di usia senja, melukis bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan juga bentuk perjuangan hidup.
Nilai Karya dan Prinsip Hidup
Setiap lukisan yang ia buat memakan waktu dua hingga tiga minggu dengan nilai mencapai Rp 50 juta ke atas. Namun, lebih dari nilai rupiah, setiap karya adalah upaya mempertahankan hidup dan martabat. Bagi Mbah Kibar, tanah warisan itu bukan sekadar properti, melainkan bagian dari identitas dan sejarah keluarga. "Takut, sedih, kecewa," ungkapnya saat pertama kali mengetahui dirinya harus menanggung utang tersebut.
Martabat di Tengah Kesulitan
Meski tidak pernah menggunakan uang pinjaman, Mbah Kibar memilih tetap bertanggung jawab. Dalam pandangannya, tanah warisan leluhur tidak bisa dinilai dengan uang. "Sangat penting, tanah warisan leluhur, dalam budaya Jawa ini adalah tanah yang tidak bisa diserahkan pada siapapun tanpa peduli harganya," katanya. Pilihan itu bukan tanpa risiko, namun bagi Mbah Kibar, menjaga warisan berarti menjaga kehormatan.
Di tengah perjuangan yang berat, Mbah Kibar juga menghadapi kenyataan pahit lainnya: sekitar 21 lukisannya pernah dibawa orang tanpa dibayar. "Lukisan Saya itu banyak dibawa kabur orang, sebenernya sudah jadi uang, namun dibawa kabur oleh teman saya," ujarnya. Pengalaman itu meninggalkan luka mendalam, terlebih terjadi saat ia tengah menghadapi tekanan dari bank.
Menolak Donasi, Bertahan dengan Karya
Dalam kondisi serba sulit, Mbah Kibar memilih jalan yang tidak mudah. Ia menolak membuka donasi dan tidak ingin dianggap meminta-minta. "Saya profesional saja, Saya masih mampu untuk melukis, Saya mau menyelesaikan masalah ini dengan lukisan Saya," tegasnya. "Saya enggak buka sumbangan, juga bukan pengemis, Saya ini pelukis, kalau mau bantu Saya, cukup kenalkan saya dengan kolektor saja."
Keputusan itu mencerminkan prinsip hidup yang ia pegang teguh: bertahan dengan martabat. "Martabat dan idealisme sebagai maestro tangguh," ujarnya menjadi alasan ia tetap bertahan sampai saat ini. Atsir sebagai pendamping mengungkapkan, di usia Mbah Kibar yang tak lagi muda, tekanan fisik dan mental menjadi tantangan besar. "Tentunya tuntutan bank untuk segera menutup hutang, hal ini sangat memberatkan kondisi fisik dan psikis Mbah Kibar yang sudah berumur tua," ujarnya.
Harapan di Balik Lelah
Mbah Kibar mengakui pernah merasa lelah dan putus asa. "Pernah, lelah pasti dialami, putus asa pasti dihadapi, namun kami sebagai pihak pendamping dan Mbah Kibar belum pernah menyerah," katanya. Semangat itu terus dijaga, didorong oleh keyakinan bahwa selama masih mampu melukis, harapan belum sepenuhnya hilang.
Atsir dan tim pendamping memilih berdiri di sisi Mbah Kibar tanpa mengambil keuntungan. "Pak Kibar sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah ini melalui karya lukisnya, beliau orang yang terhormat, beliau tidak membuka donasi, tidak meminta sumbangan, beliau hanya ingin menyelesaikan masalah tanah leluhurnya ini melalui goresan lukisannya," ujar Atsir. "Kami selaku pihak pendamping juga tidak akan mengambil keuntungan sepeserpun dari penjualan karya-karya Pak Kibar."
Dukungan yang Mulai Mengalir
Melalui akun @maestro_kibar, Mbah Kibar menawarkan deretan lukisan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Pangeran Diponegoro, hingga Gibran Rakabuming Raka. Hingga saat ini, dukungan mulai mengalir dari kolektor hingga ajudan tokoh nasional. Tim pendamping pun tengah mempertimbangkan opsi lelang untuk mencapai angka pelunasan. Di antara banyak karya, lukisan Bunda Theresa paling dekat di hatinya, sementara sosok Bung Karno memiliki makna tersendiri sebagai penenang hati rakyat Indonesia di masanya.
Perjuangan Mbah Kibar adalah cerita tentang keteguhan, martabat, dan cinta pada warisan leluhur yang tak ternilai. Di ujung senja, ia membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang perjuangan hidup yang penuh makna.



