Ressa Rizky Rossano Masih Terluka, Keluarga Siap Jembatani Pertemuan dengan Denada
Ressa Masih Terluka, Keluarga Siap Jembatani Pertemuan Denada

JAKARTA - Bukan berarti menolak untuk bertemu, namun pihak Ressa Rizky Rossano masih merasakan luka mendalam akibat perlakuan Denada di masa lalu. Meskipun demikian, keluarga Ressa menunjukkan sikap terbuka dengan bersedia menjembatani pertemuan antara kedua belah pihak.

Kesediaan Keluarga sebagai Penengah

Kuasa hukum Ressa Rizky Rossano sekaligus kakak iparnya, Ronald Armada, secara resmi menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pertemuan tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam program Intens Investigasi, menandai langkah pertama menuju rekonsiliasi.

Pernyataan Ronald Armada

"Mungkin kita menjawab pertanyaan Denada untuk lekas ketemu dengan Ressa, nanti kita jembatani," ujar Ronald dengan nada diplomatis. Ia menambahkan, "Kalau Denada memang mau ketemu, nanti saya fasilitasi, saya enggak masalah."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada rasa sakit yang masih membekas, keluarga Ressa tidak menutup pintu sepenuhnya untuk komunikasi. Mereka justru mengambil peran aktif sebagai penengah yang dapat membantu memuluskan proses pertemuan.

Luka Masa Lalu yang Belum Sembuh

Di balik kesediaan menjembatani, Ronald mengakui bahwa Ressa masih merasa terluka dengan perlakuan Denada sebelumnya. Luka emosional ini menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap upaya rekonsiliasi.

Kondisi psikologis Ressa menjadi perhatian utama keluarga, sehingga setiap langkah pertemuan harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Mereka ingin memastikan bahwa proses ini tidak memperburuk keadaan, melainkan membawa penyembuhan.

Harapan untuk Penyelesaian Damai

Dengan kesediaan keluarga sebagai penengah, terbuka peluang untuk:

  • Dialog langsung antara Ressa dan Denada
  • Penyelesaian konflik secara kekeluargaan
  • Pemulihan hubungan yang sempat renggang
  • Penutupan babak lama yang menyakitkan

Meskipun jalan menuju rekonsiliasi masih panjang dan penuh tantangan, langkah pertama telah diambil dengan kesediaan keluarga Ressa untuk berperan sebagai jembatan komunikasi.