Sruti Respati Tunda Pendaftaran Karya, Pertanyakan Transparansi Royalti
Sruti Respati Tunda Pendaftaran Karya, Pertanyakan Royalti

Sruti Respati Tunda Pendaftaran Karya, Pertanyakan Transparansi Royalti

Bagi Sruti Respati, royalti bukan sekadar angka finansial, melainkan juga sebuah bentuk kepercayaan yang harus dijunjung tinggi. Penyanyi keroncong asal Kota Solo, Jawa Tengah ini memutuskan untuk tidak mendaftarkan satu pun karyanya ke lembaga resmi hingga Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah ia mempertimbangkan sistem pelaporan yang diterapkan oleh Lembaga Manajemen Kolektif (LMK).

Keraguan Terhadap Sistem Pelaporan

Dalam perbincangan dengan media, Sruti mengungkapkan keraguannya terhadap transparansi yang ditawarkan oleh LMK. "Jujur saja saya masih ragu karena belum melihat laporan transparansi yang bisa diakses secara mudah," ucapnya pada Senin, 9 Maret 2026. Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi mengenai pembagian royalti sangat krusial untuk membangun kepercayaan di kalangan seniman.

Sruti percaya bahwa tanpa laporan yang jelas dan mudah diakses, para seniman mungkin merasa tidak yakin apakah hak mereka benar-benar dilindungi. Ia menambahkan bahwa transparansi bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana proses tersebut dapat memperkuat hubungan antara seniman dan lembaga pengelola hak cipta.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Implikasi bagi Industri Kreatif

Keputusan Sruti ini menyoroti isu yang lebih luas dalam industri kreatif Indonesia, di mana banyak seniman masih merasa kurang dilibatkan dalam proses pengelolaan royalti. Beberapa poin yang menjadi perhatian meliputi:

  • Kebutuhan akan sistem pelaporan yang lebih terbuka dan mudah dipahami.
  • Pentingnya edukasi bagi seniman mengenai hak cipta dan mekanisme royalti.
  • Potensi dampak jangka panjang jika kepercayaan seniman terhadap lembaga pengelola terus menurun.

Dengan menunda pendaftaran karyanya, Sruti berharap dapat mendorong perbaikan dalam sistem yang ada. Ia berpendapat bahwa langkah ini bukan sekadar protes, tetapi upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil bagi semua pihak di industri musik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga