Jakarta, Kompas.com - Penyanyi Sal Priadi mengungkapkan keresahan para musisi terhadap tuntutan agar lagu-lagu mereka menjadi viral. Menurutnya, viralitas sebuah lagu dan jumlah pendengar yang masif di platform streaming digital kini menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah karya.
Tekanan Viral dan Algoritma
Dalam konferensi pers di Jakarta Selatan pada Senin (1/6/2026), Sal Priadi menyatakan, "Penyanyi selalu mengejar angka streams yang tinggi, views yang tinggi, algoritma, FYP, segala macam sesuatu yang viral." Hal ini menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dirasakan musisi untuk menyesuaikan diri dengan tren digital.
Dampak pada Proses Kreatif
Menurut Sal Priadi, tuntutan untuk viral justru membunuh naluri alami seorang musisi dalam berkarya. Ia menekankan bahwa musisi seharusnya bebas berekspresi tanpa harus terikat pada ekspektasi pasar yang sempit. Kisah di balik lagu "Ada Titik-titik di Ujung Doa" yang viral menjadi contoh bagaimana sebuah karya bisa meledak tanpa direncanakan.
Sal Priadi berharap industri musik dapat kembali menghargai esensi seni dan tidak semata-mata berorientasi pada angka. Ia mengajak para musisi untuk tetap setia pada visi artistik mereka, meskipun tekanan untuk viral terus mengintai.



