Drama populer Agent Kim Reactivated kembali menjadi sorotan publik. Namun, kali ini perhatian tidak tertuju pada rating tingginya, melainkan pada adegan berdurasi tiga menit yang sepenuhnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Adegan tersebut menggambarkan masa lalu Manajer Kim sebagai agen khusus yang bertugas menyamar, dengan visual yang menakjubkan seperti bangunan meledak, kejar-kejaran mobil di terowongan bersalju, tabrakan dramatis, dan terjun ke sungai gelap.
Teknologi AI Gantikan Aktor dan Pemeran Pengganti
Yang mengejutkan, baik aktor utama So Ji Sub maupun para pemeran pengganti tidak benar-benar melakukan adegan berbahaya tersebut. Semua efek aksi spektakuler itu dihasilkan oleh AI, yang biasanya membutuhkan anggaran besar dan risiko keselamatan signifikan jika difilmkan secara nyata. Keputusan ini memicu diskusi hangat di kalangan penggemar dan pelaku industri.
Menurut sumber produksi, penggunaan AI memungkinkan tim kreatif untuk mengeksplorasi adegan yang sebelumnya mustahil dilakukan tanpa membahayakan kru. "Kami ingin menghadirkan pengalaman sinematik yang imersif tanpa mengorbankan keselamatan siapa pun. AI memberi kami kebebasan itu," ujar seorang perwakilan produksi.
Dampak pada Industri Hiburan
Langkah ini dinilai sebagai terobosan dalam produksi drama Korea, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan aktor dan stuntman. Beberapa pihak khawatir penggunaan AI dapat mengurangi lapangan kerja di industri hiburan. Namun, produser menegaskan bahwa AI hanya digunakan untuk adegan berisiko tinggi, sementara akting emosional tetap mengandalkan talenta manusia.
Data menunjukkan bahwa adegan AI tersebut memakan waktu produksi lebih singkat dibandingkan syuting konvensional, dan biaya produksi dapat ditekan hingga 30 persen. Meski begitu, respons penonton terbelah: ada yang terkesan dengan visualnya, namun sebagian menganggapnya mengurangi keaslian drama.
Masa Depan Drama Korea dengan AI
Agent Kim Reactivated menjadi pionir dalam penggunaan AI untuk adegan aksi penuh. Ke depannya, teknologi serupa diperkirakan akan lebih banyak diadopsi, terutama untuk genre laga dan fantasi. Para ahli memprediksi bahwa keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia akan menjadi kunci kesuksesan produksi di era digital.



