Luna Maya dan Reza Rahadian Angkat Pesan Emansipasi Perempuan dalam Film Horor Suzzanna
Aktris Luna Maya dan aktor Reza Rahadian secara mendalam membedah pesan emansipasi dan kekuatan perempuan yang diusung dalam film terbaru mereka, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Meski bergenre horor kolosal, film ini diklaim memiliki kedalaman cerita yang kuat dalam memotret perjuangan perempuan melawan berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan.
Karakter Suzzanna sebagai Representasi Perempuan Berdaya
Luna Maya, yang kembali memerankan karakter ikonik Suzzanna, menyebut tokoh yang dimainkannya kali ini bukan sekadar sosok hantu yang menakutkan, melainkan representasi nyata dari perempuan yang berani bersuara dan mengambil tindakan. Dalam acara press junket di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, pada Rabu (25/2/2026), Luna Maya menjelaskan visinya terhadap karakter tersebut.
"Aku melihat karakter Suzzanna ini ya benar superhero. Seorang yang memberantas kejahatan. Dia hadir dengan karakter bahwa perempuan itu harus berdaya dan punya suara. Pada saat dia mau dibungkam, dia tetap lantang," ujar Luna Maya dengan penuh semangat. Pernyataan ini menegaskan bahwa film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan sosial yang relevan dengan isu kesetaraan gender di Indonesia.
Kedalaman Cerita di Balik Genre Horor
Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menawarkan lebih dari sekadar ketegangan dan adegan menyeramkan khas horor. Reza Rahadian, yang juga terlibat dalam proyek ini, menambahkan bahwa cerita ini dirancang untuk menyoroti perjuangan perempuan dalam menghadapi sistem yang sering kali menindas. "Kami ingin audiens tidak hanya terpaku pada unsur horornya, tetapi juga merenungkan makna di balik setiap adegan," kata Reza.
Beberapa poin kunci yang diangkat dalam film ini meliputi:
- Emansipasi perempuan melalui karakter Suzzanna yang aktif melawan ketidakadilan.
- Kekuatan suara perempuan dalam menghadapi tekanan sosial dan budaya.
- Perjuangan melawan penindasan yang digambarkan melalui alur cerita yang kompleks.
- Integrasi pesan sosial dalam genre horor untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Dengan pendekatan ini, film diharapkan dapat menginspirasi penonton, terutama perempuan, untuk lebih berani dalam menyuarakan hak-hak mereka. Rilis film pada tahun 2026 ini diprediksi akan menjadi pembicaraan hangat di kalangan pecinta film dan aktivis sosial.