JAKARTA - Sutradara ternama Joko Anwar mengungkapkan alasan mendasar di balik keputusannya yang cukup langka dalam industri perfilman Indonesia. Ia secara resmi membuka akses terhadap aset visual dari film terbarunya, Ghost in the Cell, dan mengizinkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memproduksi serta menjual merchandise terkait film tersebut tanpa dikenakan biaya royalti sama sekali.
Dukungan untuk Kreativitas Masyarakat
Kebijakan ini, menurut Joko, diambil sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kreativitas masyarakat yang selama ini sering kali terbentur oleh masalah birokrasi dan lisensi yang rumit. Dalam pesan suara yang disampaikan kepada media pada Kamis, 16 April 2026, Joko Anwar menjelaskan motivasi di balik langkah tersebut.
"Memang langkah ini tidak umum, tapi sebenarnya datang dari hal yang sederhana. Saya melihat banyak teman-teman UMKM yang kreatif, banyak yang membuat fan art, dan mereka juga selama ini sudah memproduksi beberapa merchandise. Mereka ingin ikut merayakan sebuah film, tapi sering terbentur soal izin dan biaya lisensi," ujar sutradara yang dikenal dengan karya-karya horor komedinya itu.
Alternatif dari Produksi Ilegal
Joko Anwar menambahkan bahwa daripada membiarkan produksi merchandise berjalan secara ilegal atau tanpa izin resmi, ia memilih untuk membuka akses aset visual filmnya secara legal dan transparan. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi para pengusaha kecil untuk berkontribusi dalam ekosistem perfilman, sekaligus mengurangi praktik-praktik yang melanggar hak cipta.
Langkah ini juga mencerminkan kepedulian Joko terhadap perkembangan UMKM di Indonesia, di mana banyak pelaku usaha yang memiliki bakat dan ide kreatif namun terkendala oleh regulasi dan biaya tinggi. Dengan kebijakan tanpa royalti ini, diharapkan dapat memacu inovasi dan partisipasi masyarakat dalam menyebarkan semangat film Ghost in the Cell.
Film Ghost in the Cell sendiri merupakan karya terbaru Joko Anwar yang masuk dalam genre horor komedi, dan telah menarik perhatian publik dengan sinopsis serta jadwal tayangnya. Keputusan untuk membuka aset visualnya dinilai sebagai terobosan yang dapat memperkuat hubungan antara industri kreatif film dengan sektor usaha lokal.



