Dalam sebuah pernyataan tegas yang disampaikan di Jakarta, sutradara Ronny Gani mengonfirmasi bahwa film animasi terbaru berjudul Garuda di Dadaku diproduksi sepenuhnya tanpa melibatkan teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Keputusan ini diambil berdasarkan keyakinan bahwa kekuatan utama bangsa Indonesia tidak terletak pada kemajuan teknologi semata, melainkan pada potensi dan kreativitas sumber daya manusia yang dimiliki.
Penekanan pada Human Craft sebagai Fondasi Kreatif
Ronny Gani menjelaskan bahwa proses pembuatan Garuda di Dadaku mengutamakan human craft atau keterampilan manusia, yang dianggap sebagai aset terpenting dalam industri film animasi Indonesia. Dalam konferensi pers yang digelar di Plaza Senayan pada Selasa, 7 April 2026, ia menegaskan bahwa tim produksi sengaja menghindari penggunaan AI untuk menjaga keaslian dan sentuhan artistik yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan manusia.
Menggali Talenta Lokal di Seluruh Nusantara
Lebih lanjut, sutradara tersebut mengungkapkan bahwa proyek ini memanfaatkan bakat-bakat berbakat dari berbagai daerah di Indonesia. "Kekuatan kita ada di human craft. Kita banyak sekali talenta-talenta yang berbakat di seluruh Indonesia," ujar Ronny Gani dengan penuh semangat. Pernyataan ini menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan industri kreatif lokal dengan melibatkan para profesional dan seniman dalam negeri.
Dengan pendekatan ini, Garuda di Dadaku tidak hanya bertujuan untuk menghibur penonton, tetapi juga menjadi wujud nyata dari upaya memajukan sektor animasi Indonesia melalui pemberdayaan sumber daya manusia. Film yang rencananya tayang bertepatan dengan kick off Piala Dunia 2026 ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya tanpa bergantung sepenuhnya pada teknologi canggih.



