Dalam wawancara dengan HT Lifestyle, Miguel Villaquiran, CEO dan salah satu pendiri Libertario, mengungkap fakta di balik mitos kopi spesialti yang sering disalahpahami. Tren minum kopi global terus berkembang, dengan konsumen beralih dari kopi instan ke kedai kopi spesialti, mendorong eksplorasi rasa, keahlian, dan asal-usul biji kopi.
Mitos: Kopi Spesialti Selalu Asam
Villaquiran menjelaskan bahwa anggapan kopi spesialti selalu asam adalah mitos. "Kopi spesialti memiliki profil rasa yang beragam, dari fruity hingga chocolaty, tergantung pada varietas, proses, dan sangrai," katanya. Rasa asam yang seimbang justru menandakan kualitas, bukan cacat.
Mitos: Kopi Spesialti Mahal dan Elitis
Ia juga membantah bahwa kopi spesialti hanya untuk kalangan atas. "Harga lebih tinggi mencerminkan praktik perdagangan langsung, kualitas biji, dan keberlanjutan," ujarnya. Dengan membeli kopi spesialti, konsumen mendukung petani dan lingkungan.
Mitos: Kopi Spesialti Harus Disajikan Hitam
Banyak yang mengira kopi spesialti hanya nikmat tanpa tambahan. Villaquiran menegaskan bahwa menambahkan susu atau gula tidak mengurangi kualitas. "Yang terpenting adalah menikmati secangkir kopi sesuai selera Anda," tambahnya.
Mitos: Biji Kopi Segar Selalu Lebih Baik
Kesegaran memang penting, namun biji yang terlalu segar justru menghasilkan ekstraksi tidak optimal. "Biji kopi perlu waktu 'degassing' beberapa hari setelah sangrai sebelum diseduh untuk hasil terbaik," jelas Villaquiran.
Mitos: Kopi Spesialti Hanya untuk Barista Ahli
Villaquiran mendorong siapa pun untuk mencoba menyeduh kopi spesialti di rumah. "Dengan alat sederhana seperti V60 atau French press, Anda bisa menikmati kopi berkualitas tanpa pelatihan khusus," katanya.
Pasar kopi spesialti global diperkirakan tumbuh 12% per tahun, menurut data Specialty Coffee Association. Di Indonesia, tren ini juga meningkat seiring munculnya kedai kopi independen yang menawarkan biji lokal.



