SPPG Jember Serap Seluruh Tenaga Kerja Lokal, Dorong Ekonomi Desa
SPPG Jember Serap Tenaga Kerja Lokal, Dorong Ekonomi Desa

SPPG di Jember Serap Seluruh Tenaga Kerja dari Warga Lokal, Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Jember tidak hanya berperan dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Salah satu contohnya terlihat di SPPG Kecamatan Jombang yang seluruh tenaga kerjanya berasal dari masyarakat setempat. Melalui skema rekrutmen yang mengutamakan warga lokal, SPPG membuka peluang kerja bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus menjadi penggerak ekonomi di tingkat desa.

Rekrutmen Utamakan Warga Berpenghasilan Rendah

Kepala SPPG Kecamatan Jombang, Harun Al Rasyid, mengatakan operasional SPPG saat ini didukung oleh 49 personel. Jumlah tersebut terdiri atas 46 relawan dan tiga anggota tim inti yang mengisi posisi Kepala SPPG, akuntan, serta pengawas gizi. "Komposisi tersebut terdiri dari 46 orang relawan serta 3 orang tim inti, yang meliputi posisi Kepala SPPG, akuntan, dan pengawas gizi," kata pria kelahiran 2002 itu.

Menurut Harun, proses perekrutan relawan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi calon pekerja. Yayasan bersama mitra kerja menggunakan acuan tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan klasifikasi desil. "Misalnya, klasifikasi desil 1, desil 2, dan desil 3. Pendekatan ini diambil agar peluang kerja yang tersedia benar-benar menyasar keluarga yang paling membutuhkan bantuan ekonomi," ujar pria kelahiran Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Selain faktor ekonomi, pihak SPPG juga menetapkan persyaratan administrasi yang wajib dipenuhi. Salah satunya adalah surat keterangan sehat. Rasyid menegaskan bahwa aspek kesehatan relawan adalah prioritas utama. Mengingat, aktivitas utama berada di area dapur umum. Jadi, penerapan standar higiene dan sanitasi yang ketat menjadi hal yang mutlak demi menjaga kualitas layanan gizi. "Kami melihat tingkat ekonomi dari relawan itu sendiri melalui sistem desil sehingga tidak sembarang memasukkan orang. Persyaratan seperti surat kesehatan juga sangat penting agar kesehatan relawan terjaga, karena aktivitas di dapur ini identik sekali dengan masalah higiene dan sanitasi," ujarnya.

Seluruh Relawan Berasal dari Desa Wringinagung

Komitmen yayasan terhadap lingkungan sekitar dibuktikan dengan penyerapan tenaga kerja yang 100 persen berasal dari masyarakat lokal. Harun memastikan bahwa seluruh relawan merupakan penduduk asli Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, dan tidak ada pekerja yang didatangkan dari luar wilayah desa. Langkah ini membawa perubahan signifikan bagi kehidupan ekonomi para relawan.

Harun menceritakan, sebelum bergabung dengan SPPG, mayoritas relawan memiliki latar belakang profesi yang rentan secara penghasilan. Mulai dari warga yang tidak memiliki pekerjaan tetap alias menganggur, buruh kuli, hingga buruh petani. Kini, setelah aktif bekerja di dapur pelayanan gizi tersebut, para relawan sudah dapat merasakan langsung dampak positif dari hasil kerja keras mereka. Misalnya, Layla dan Mia, warga Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang.

Layla mengaku, perekonomiannya mulai membaik setelah bekerja menjadi relawan di SPPG setempat. "Suami saya kerja jadi kuli bangunan, jadi pendapatan saya di sini sangat membantu biaya rumah tangga," ujarnya. Begitu juga dengan Mia. Perempuan yang baru berpisah dengan suaminya ini sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai keluarga. "Kami berharap, SPPG ini bisa berjalan dengan baik dan terus beroperasi. Kalau sampai tutup, kami juga yang bakal kesusahan," tandasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga