Prinsip Satu Jadi Dua, Usaha Pohon Pelindung Rezza Bertahan 12 Tahun
Prinsip Satu Jadi Dua, Usaha Pohon Pelindung Rezza Bertahan 12 Tahun

Jakarta - Rezza memegang prinsip sederhana dalam membangun usaha pohon pelindungnya: memiliki satu harus menjadi dua. Cara pandang itu yang mengantarkan usahanya perlahan berkembang hingga mampu bertahan selama lebih dari satu dekade.

Sore itu, hujan deras mengguyur Jalan Citayam Kampung Baru, Tajurhalang, Kabupaten Bogor. Genangan air kecokelatan memenuhi jalan tanah di antara pohon-pohon tinggi yang menjulang di lapak milik Rezza.

Di saung kecil di tengah lapak yang basah diguyur hujan, Rezza Agung Vahlevi bercerita mengenai perjalanan usahanya selama 12 tahun. Pria 29 tahun itu mengaku telah menekuni usaha tanaman sejak masih remaja karena mayoritas warga di lingkungannya juga merupakan pengusaha tanaman.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Masih sekolah kalau tidak salah sudah mulai ikut, kalau lagi libur," kata Rezza saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Ketertarikan Rezza muncul karena melihat keuntungan yang dihasilkan dari usaha tanaman cukup menjanjikan. Ia pun mulai menjalankan usaha sendiri secara kecil-kecilan. Ia mengatakan perjalanan usahanya hingga bisa bertahan sampai sekarang membutuhkan proses yang panjang. Mulai dari menawarkan dagangannya dari mulut ke mulut sampai akhirnya mampu menyewa lapak seharga Rp 6 juta per tahun.

"Ya kalau orang sini bilang, punya satu harus jadi dua begitu. Berkembang sedikit-sedikit ya," kata Rezza.

Ia menjelaskan pohon pelindung mempunyai berbagai manfaat, seperti menjaga tanah agar tidak longsor hingga melindungi dari panas matahari.

Adapun pohon pelindung yang dijual Rezza di antaranya Pule, Palem Kurma, Pohon Bodhi, Kamboja Fosil, Palem Sadeng hingga Pule Air. Pohon-pohon ini didapatkan Rezza dari daerah Banten, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Harga pohon yang dijual pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Menurut Rezza, pohon pule menjadi salah satu jenis yang paling mahal.

"Pohon pule biasanya itu kalangan menengah ke atas," imbuh Rezza.

Harga tersebut belum termasuk biaya operasional pengangkutan hingga penanaman pohon pelindung.

Rezza menjelaskan proses penjualan pohon pelindung berawal dari pembelian bibit pohon di hutan. Pohon yang sudah mulai besar itu kemudian dikarantina selama dua minggu sampai satu bulan.

"Nah, nanti kalau sudah ada daun, biasanya baru konsumen mau beli. Kalau belum ada daun tumbuh, tidak tertarik kemungkinan konsumen, risiko matinya tinggi," kata Rezza.

Menurut Rezza, beberapa pelanggan biasanya membeli pohon pelindung sekaligus menggunakan jasa penanamannya.

"Kita jual harga pohon, terus kalau operasional, biasa kita pisah, tergantung besar kecilnya pohon," ujar Rezza.

Ia mengaku belajar secara otodidak mengenai penanganan pohon pelindung. Kemampuan itu ia dapatkan dengan melihat warga lain yang juga telah lebih dulu terjun di usaha tersebut.

"Ya lama-kelamaan bisa sendiri. Karena memang hobi di bidang ini," tutur dia.

Selain lewat penjualan langsung, Rezza juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan dagangannya. Ia sudah mempunyai akun Instagram hingga situs jualan sendiri.

Dampak Ekonomi Usaha Pohon Pelindung

Rezza menjelaskan dalam sebulan, dirinya bisa menjual lima sampai sepuluh pohon. Keuntungan yang dihasilkan dari penjualan itu mencapai sekitar Rp 10 jutaan.

Laba itu ia gunakan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Selain itu, ia juga memutar keuntungan tersebut untuk modal usaha.

Dampak dari usaha yang dijalani Rezza ini dirasakan sendiri oleh keluarganya. Ia bersyukur kebutuhan ekonomi sehari-hari bisa terpenuhi.

"Sangat membantu. Utamanya buat keluarga. Ya buat sehari-hari itu tidak pernah sampai tidak makan lah begitu, kasarnya. Terus buat anak sekolah cukup, buat kebutuhan yang lainnya cukup. Alhamdulillah dari usaha ini," tutur dia.

Warga setempat juga merasakan dampak dari adanya usaha tersebut. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari bekerja di usaha milik Rezza.

"Membantu warga sekitar lah, yang tadinya tidak kerja bisa ikut kerja," tuturnya.

Saat ini Rezza mempekerjakan sekitar sembilan orang warga. Mereka biasanya digaji sekitar Rp 350 ribu per hari.

"Pegawai untuk yang standby itu ada satu orang, tapi kalau untuk yang freelance ada kisaran di delapan orang," kata dia.

Rezza mengatakan pohon pelindung miliknya telah dikirim ke berbagai daerah. Wilayah pengiriman paling jauh yaitu ke Sumatera Barat dan Bali.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"Kalau untuk luar kota biasanya lumayan banyak pesannya," ujar dia.

Dukungan Modal BRI Bantu Ekspansi

Setelah menjalankan usaha selama beberapa tahun, Rezza ingin terus mengembangkan bisnis pohon pelindungnya. Ia pun mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk menambah modal usaha.

"Kita ingin mengembangkan usaha biar lebih maju lagi," kata Rezza.

Ia mendapatkan pinjaman KUR senilai Rp 100 juta dengan jangka pembayaran selama tiga tahun. Uang itu ia gunakan untuk menambah stok pohon yang akan dijual.

Rezza merasa terbantu dengan adanya tambahan modal tersebut. Pendapatan yang diperoleh Rezza pun semakin meningkat.

"Makin bertambah, alhamdulillah. Kebantu banget lah kalau masalah itu," ujar dia.

Mantri BRI di Sasak Panjang, Mohammad Irfansyah, mengatakan biasanya pihaknya memberikan program pendampingan bagi para pelaku UMKM. Selain itu, bantuan juga kerap diberikan untuk mendukung usaha warga.

Irfan berharap usaha yang dijalankan oleh Rezza semakin meningkat. Pendapatan yang diperoleh juga diharapkan terus bertambah sehingga membantu perekonomian warga.

"Harapan ke depan usaha nasabah makin maju dan berkembang, meningkatkan taraf hidup orang banyak di sekitar lingkungan," kata Irfan kepada detikcom.

Sementara itu, Kepala Unit BRI Citayam, Harianto, menjelaskan ada beragam program pembiayaan yang disalurkan BRI untuk membantu masyarakat mulai dari KUR, Kupedes, Kupedes Rakyat hingga Briguna. Pihak BRI nantinya bakal memproses pengajuan pembiayaan sesuai dengan profil dari masing-masing warga.

"Nanti disesuaikan dengan profil kebutuhan nasabah," ujar Harianto.

Ia juga menjelaskan mengenai proses pengajuan kredit yang selama ini dilayani BRI dari berbagai kanal.

"Proses pengajuan kredit berasal dari database pipeline kantor pusat, pengajuan nasabah, serta UMKM kelurahan," ujar dia.