Suara gergaji dan dentingan palu terdengar nyaring dari depan rumah Bambang Setiawan di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi. Sejumlah pekerja terlihat sibuk mengejarkan bagian depan rumah yang masih dalam proses renovasi. Renovasi rumah tersebut menjadi salah satu gambaran dari hasil perjalanan panjang Bambang mengelola usaha tempe yang menjadi warisan dari ayahnya.
Perjalanan Usaha Tempe Sejak 2009
Sejak 2009, Bambang mulai meneruskan usaha keluarga hingga berkembang dengan jumlah pelanggan yang terus bertambah. Ia memulai usaha tempe itu dari bawah. Sebelum mengelola usaha sendiri, Bambang lebih dulu memahami setiap proses produksi, termasuk membantu sebagai pekerja di usaha tersebut. Menurutnya, pengalaman itu penting agar ia memahami cara mengelola usaha dengan baik.
"Kita nggak langsung langsung bisa me-manage gini. Kita tetap harus belajar dari bawah, maksudnya kita mulai ini ngikut-ngikut nguli dulu," ujar Bambang saat ditemui detikcom di rumahnya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu.
Menjaga Kualitas dan Kepercayaan Pelanggan
Di awal usahanya, Bambang hanya melayani beberapa pelanggan. Namun di tengah kondisi tersebut, ia terus berupaya untuk menjaga kualitas produk dan kepercayaan pelanggar agar usaha tersebut dapat berkembang. "Jaga ibaratnya kepercayaan pelanggan kita, jangan sampai mengecewakan, gitu aja sebenarnya," ujar Bambang.
Tantangan Saat Pandemi COVID-19
Dalam perjalanannya, usaha Bambang tak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu masa sulit yang dihadapi Bambang yaitu ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama membuat biaya produksi meningkat signifikan. Saat itu Bambang berada dalam situasi sulit karena harus menjaga harga jual agar tetap terjangkau bagi pelanggan, sementara harga bahan baku naik.
"Kita nggak bisa menaikkan harga jual kita sembarangan. Yang ada malah kalau kita naikkan sembarangan itu, pelanggan kita malah pada kabur," ujar Bambang.
Peran KUR BRI dalam Bertahan dan Berkembang
Untuk menjaga usaha tetap berjalan, Bambang kemudian mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp 50 juta sebagai tambahan modal. Pinjaman tersebut juga membantunya melewati masa sulit sekaligus menjaga produksi tetap berjalan. "Alhamdulillah, jadi dengan adanya pinjaman itu kita bisa bertahan. Bisa bertahan dan akhirnya kita bisa lewatin itu semua. Ya alhamdulillah kita dalam kondisi yang stabil seperti sekarang," ujar dia.
Setelah itu, Bambang kembali mengajukan pinjaman KUR BRI sebanyak dua kali dengan nilai masing-masing Rp 100 juta. Tambahan modal tersebut digunakan untuk pengembangan usaha, termasuk membeli sejumlah peralatan produksi. "Jadi kan kita perlu nambah modal lagi untuk seperti kita beli alat, yang tadinya kita manual kita sekarang jadi semi manual," ujar dia.
Kapasitas Produksi dan Omzet
Dalam sehari, usaha tempe Bambang bisa menghasilkan sekitar 2 kuintal tempe. Produk tersebut dipasarkan melalui pedagang keliling hingga menjangkau wilayah Cikarang dan Serang Bekasi. Dari usaha tersebut, Bambang memperoleh pendapatan kotor lebih dari Rp 20 juta per bulan. Uang yang diperoleh itu salah satunya digunakan untuk membeli bahan kedelai lagi sekitar dua ton yang dapat digunakan untuk produksi selama kurang lebih 10 hari. Saat ini ada dua orang pegawai yang bekerja di usaha tempe milik Bambang. Mereka digaji per bulan kurang lebih sebesar Rp 5 juta. "Kebetulan mereka tetangga," kata pria berusia 40 tahun tersebut.
Dampak KUR BRI bagi Keluarga
Bambang mengatakan pinjaman modal KUR BRI memberikan dampak besar bagi keberlangsungan usahanya. Selain menjaga produksi tetap berjalan, dukungan modal itu juga membantu kondisi ekonomi keluarganya. "Kemudian secara nggak langsung kan ekonomi kita juga stabil buat keluarga kita," kata Bambang. Salah satu hasil manfaat yang dirasakan Bambang yaitu ia bisa merenovasi rumah. Ia menyebut renovasi rumah itu baru dilakukan dalam beberapa waktu terakhir setelah kondisi usaha mulai stabil. "Alhamdulillah saya bisa renovasi rumah. Walaupun nggak gede tapi ya alhamdulillah," tutur Bambang.
Menjadi Pemasok Makan Bergizi Gratis (MBG)
Perkembangan usaha tempe Bambang juga membawanya menjadi salah satu pemasok kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG). Awalnya ia mendapatkan tawaran untuk mengirimkan produk tempe ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setelah melalui proses pengecekan, produk tempe miliknya dinilai dari sisi kualitas maupun harga. Kini Bambang memasok kebutuhan beberapa program MBG di wilayah Cibarusah, Kabupaten Bekasi. "Alhamdulillah kita ada beberapa, cocok barang, cocok di harga juga, kita ada supply buat beberapa MBG," kata Bambang. Dalam seminggu, pengiriman dilakukan sekitar dua hingga tiga kali menyesuaikan permintaan dari SPPG. Sekali pengiriman, jumlahnya berkisar 100 hingga 200 bungkus. Dari tambahan pesanan tersebut, Bambang memperkirakan ada tambahan keuntungan sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1,2 juta.
Dukungan BRI untuk UMKM
Mantri BRI Unit Serang Bekasi, Sicillia Susan, mengatakan BRI terus mendukung pengembangan UMKM melalui penyaluran dana KUR. Program tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas usahanya. "Tujuannya memang dari BRI 'kan program pemerintah untuk membantu UMKM yang ada di sekitaran BRI tersebut," ujar Susan saat diwawancara detikcom secara terpisah. Dalam setiap pengajuan KUR oleh nasabah, pihak BRI selalu melakukan survei untuk mengecek prospek usaha dan kemampuan nasabah dalam membayar angsuran. Susan mengatakan biasanya mereka yang mempunyai konsep usaha yang jelas akan memanfaatkan modal itu dengan baik sehingga akhirnya usahanya pun bisa berkembang. "Rata-rata memang kalau misalnya yang nasabah dengan konsep yang benar, terus usahanya juga yang benar, dan uangnya benar-benar digunakan untuk usaha sih alhamdulillah dia apa sih, bakalan semakin maju. Maksudnya pasti lebih dari sebelum kita kasih kredit tersebut," kata Susan.



