Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan yang signifikan. Pada Kamis (23/4/2026), rupiah menyentuh level Rp 17.310 per dolar AS, menjadikannya sebagai posisi terlemah sepanjang sejarah. Hingga pukul 09.35 WIB, rupiah tercatat di level tersebut, melemah sekitar 0,74 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di angka Rp 17.181 per dolar AS.
Pelemahan Terdalam di Asia
Dengan penurunan ini, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di kawasan Asia pada hari ini. Pencapaian ini sekaligus mencatatkan rekor baru sebagai level terlemah yang pernah dialami oleh mata uang Garuda. Kondisi ini mencerminkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia di tengah gejolak global.
Penyebab Pelemahan
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik, kebijakan moneter bank sentral AS, dan perlambatan ekonomi dunia turut menekan mata uang regional, termasuk rupiah. Menurutnya, kondisi ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga oleh negara-negara lain di kawasan Asia.
Destry menambahkan bahwa BI terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, tekanan global yang kuat membuat upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengembalikan rupiah ke level yang lebih stabil. Ia mengimbau para pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi spekulatif yang dapat memperburuk situasi.
Pelemahan rupiah ini berdampak pada berbagai sektor, termasuk impor barang, utang luar negeri, dan inflasi. Masyarakat diharapkan dapat mengelola keuangan dengan bijak di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.



