Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pada Selasa (5/5/2026), rupiah tercatat terdepresiasi 0,04 persen ke level Rp 17.400 per dollar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang terus membayangi pasar keuangan domestik.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. "Dalam jangka pendek ini ada tekanan nilai tukar karena dua hal, yaitu faktor global dan faktor musiman domestik," ujarnya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa.
Faktor Global
Faktor global yang dimaksud antara lain adalah kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi global yang mendorong penguatan dolar AS. Hal ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.
Faktor Domestik
Sementara itu, faktor musiman domestik seperti peningkatan permintaan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen juga turut memberikan tekanan tambahan pada rupiah. Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Pelemahan rupiah ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan otoritas moneter. Langkah-langkah koordinasi terus dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap perekonomian nasional.



