Program Pertanian Regeneratif LDC Dukung Kopi Rendah Emisi di Indonesia
Pertanian Regeneratif LDC Dukung Kopi Rendah Emisi

Program Pertanian Regeneratif LDC Dukung Kopi Rendah Emisi di Indonesia

Louis Dreyfus Company (LDC) Indonesia secara aktif mendukung pengembangan pertanian kopi rendah emisi di Indonesia melalui inisiatif pertanian regeneratif yang berfokus pada konservasi kesehatan tanah. Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan lahan pertanian dan mendukung produktivitas jangka panjang, terutama di tengah tantangan alam seperti perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi yang memengaruhi sektor pertanian nasional.

Fokus pada Pengurangan Jejak Karbon

Chintara Diva Tanzil, Regional Manager Stronger Coffee Initiative (SCI) LDC di Asia, menjelaskan bahwa program ini bertujuan menghasilkan kopi dengan jejak karbon yang minimal. "SCI berfokus di kebun untuk mengurangi emisi karbon dalam produksi kopi, misalnya melalui penggunaan pupuk yang tepat. Jika pupuk diaplikasikan tanpa teknik yang baik, dapat meningkatkan pengeluaran karbon," ujar Diva dalam Media Briefing 'Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan bagi Petani Indonesia melalui Pertanian Regeneratif' pada Kamis, 11 Februari 2026.

Hingga saat ini, data dari SCI LDC Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 2.000 tCO₂e emisi karbon telah berhasil dikurangi dalam proses pertanian kopi. Inisiatif ini juga didukung oleh Pandawa Agri Indonesia, yang menyediakan produk reduktan pestisida dan pupuk organik ramah lingkungan, serta Blue Marble dengan teknologi asuransi indeks cuaca untuk memantau perkebunan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Aspek dan Dampak Positif pada Petani

Kegiatan pertanian regeneratif mencakup beberapa aspek kunci, termasuk:

  • Praktik agroforestri untuk meningkatkan keanekaragaman hayati.
  • Sekolah Lapang Petani yang inklusif gender untuk pelatihan langsung.
  • Layanan teknis dari Farmer Assistance and Support Team (FAST) yang dipimpin generasi muda.

Solihin, seorang petani kopi asal Lampung yang terlibat dalam program ini, mengungkapkan bahwa pertanian saat ini memerlukan perhatian ekstra karena kondisi tanah yang kurang sehat. "Dulu, tanaman bisa dititipkan ke tanah saja, tapi sekarang tidak bisa karena tanah sudah berbeda. Program ini mengubah pola tanam saya, membuatnya lebih terarah dengan perawatan seperti pemupukan," kata Solihin.

Ia menambahkan bahwa hasil panennya meningkat signifikan, dari 1-2 kintal menjadi 5 kintal per lahan, dengan pendapatan yang naik dari 1 ton menjadi 1,5 ton kopi. "Harga kopi juga membaik, dari Rp20.000 per kilo menjadi Rp70.000 dalam tiga tahun terakhir," imbuhnya.

Pentingnya Kesehatan Tanah untuk Produktivitas

Diva menekankan bahwa kualitas tanah sangat menentukan hasil produksi kopi. "Tanah yang sehat memiliki kehidupan yang ramai, seperti ulat yang membuat lubang aerasi untuk oksigen. Ini menandakan tanah yang bagus untuk pertanian," paparnya.

Dalam acara tersebut, LDC menampilkan tiga jenis tanah dalam terarium:

  1. Tanah kurang baik: Kering, mengandung residu pestisida, dan minim biodiversitas.
  2. Tanah dengan penutupan permukaan: Umum di Indonesia, menunjukkan tahap transisi ke pertanian regeneratif.
  3. Tanah sangat regeneratif: Ideal dengan warna gelap, flora-fauna beragam, dan akar sehat.

Program ini bertujuan melestarikan lanskap perkebunan kopi untuk generasi petani sekarang dan mendatang, dengan dukungan teknologi dan pendampingan teknis yang berkelanjutan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga