Pekarangan Rumah: Potensi Ekonomi Tersembunyi yang Dikelola Perempuan
Pekarangan Rumah, Potensi Ekonomi Tersembunyi Perempuan

Pekarangan Rumah: Ruang Ekonomi Tersembunyi yang Dikuasai Perempuan

Di tengah hiruk-pikuk perbincangan global mengenai krisis pangan, dampak perubahan iklim, dan ketergantungan impor yang tinggi, ada satu ruang kecil yang sering kali luput dari perhatian publik: pekarangan rumah. Ruang ini, meski kerap dianggap sepele, sesungguhnya menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, terutama ketika dikelola secara optimal oleh perempuan.

Data BPS Mengungkap Realitas Ketimpangan Partisipasi Kerja

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat partisipasi angkatan kerja atau TPAK perempuan Indonesia baru mencapai sekitar 56,70 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 84,34 persen. Statistik tersebut mengisyaratkan sebuah fakta mencolok: lebih dari 40 persen perempuan usia produktif tidak aktif di pasar kerja formal. Kelompok ini mencakup ibu rumah tangga serta perempuan yang belum atau tidak bekerja dalam sektor formal.

Kontribusi Tersembunyi Perempuan di Dalam Rumah

Namun, di balik angka-angka statistik yang tampak suram tersebut, tersembunyi sebuah kenyataan yang berbeda. Perempuan tetap bekerja—bahkan tanpa henti—di dalam rumah. Aktivitas mereka sering kali tidak tercatat dalam data ekonomi konvensional, tetapi kontribusinya sangat signifikan. Pengelolaan pekarangan rumah menjadi salah satu contoh nyata. Dengan menanam sayuran, buah-buahan, atau tanaman herbal, perempuan dapat:

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram
  • Meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri.
  • Mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor yang fluktuatif harganya.
  • Menghasilkan pendapatan tambahan melalui penjualan hasil panen secara lokal.

Potensi ini semakin relevan dalam konteks perubahan iklim, di mana praktik pertanian skala kecil dan ramah lingkungan di pekarangan dapat membantu mitigasi dampak lingkungan.

Mengoptimalkan Potensi untuk Pemberdayaan Ekonomi

Untuk mengangkat peran strategis perempuan dalam pengelolaan pekarangan, diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Pertama, edukasi tentang teknik pertanian urban dan pengolahan hasil pekarangan dapat meningkatkan produktivitas. Kedua, akses terhadap pasar lokal atau digital dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Ketiga, pengakuan formal terhadap kerja-kerja domestik ini dalam kebijakan ketenagakerjaan dapat mendorong inklusi ekonomi yang lebih adil.

Dengan demikian, pekarangan rumah tidak hanya sekadar ruang hijau, tetapi juga menjadi laboratorium ekonomi mikro yang dikelola oleh perempuan. Melalui pemberdayaan ini, kita tidak hanya mengatasi isu ketenagakerjaan, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga