Harga Kedelai di Jakarta Tembus Rp 20 Ribu, Pemprov DKI Dorong Urban Farming
Harga Kedelai Jakarta Rp 20 Ribu, DKI Imbau Urban Farming

Harga Kedelai di Jakarta Melonjak Tajam, Tembus Rp 20 Ribu per Kilogram

Harga kedelai di DKI Jakarta mengalami kenaikan signifikan, bahkan menembus angka Rp 20 ribu per kilogram di pasar-pasar tradisional. Lonjakan harga ini telah memicu kekhawatiran di kalangan perajin tahu dan tempe, serta berpotensi memengaruhi daya beli konsumen. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun merespons dengan mengimbau masyarakat untuk mulai melirik praktik urban farming sebagai langkah strategis menjaga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Kenaikan Harga Berdampak pada Perajin dan Pedagang

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengonfirmasi bahwa kenaikan harga terjadi di berbagai level. Di tingkat pengrajin tahu dan tempe, harga kedelai naik dari kisaran Rp 8.000-Rp 8.600 per kg menjadi Rp 10.500-Rp 11.000 per kg. Sementara itu, di pasar tradisional, harga melonjak dari Rp 13.000-Rp 18.000 per kg menjadi Rp 15.000-Rp 20.000 per kg. Fluktuasi yang terlalu cepat ini menyulitkan perajin dalam mengatur produksi dan berpotensi memicu keluhan dari konsumen.

Penyebab Lonjakan Harga dan Ketergantungan Impor

Hasudungan menjelaskan bahwa lonjakan harga dipicu oleh dinamika global, terutama gejolak di Amerika Serikat sebagai eksportir kedelai terbesar, serta melemahnya nilai tukar rupiah. Selain itu, pasokan kedelai di Jakarta masih sangat bergantung pada impor, dengan sebagian kecil berasal dari daerah produsen seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Kenaikan ini mulai terpantau sejak Ramadan pada Februari 2026 dan terus berfluktuasi hingga saat ini, berdasarkan pemantauan lapangan oleh tim enumerator dan petugas statistik pertanian DKI Jakarta.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Imbauan Pemprov DKI untuk Diversifikasi Pangan

Sebagai langkah mitigasi, Pemprov DKI mengimbau masyarakat untuk melakukan diversifikasi pangan dan memanfaatkan lahan terbatas melalui urban farming. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri di rumah masing-masing. Kedelai sendiri merupakan bahan baku utama bagi pengrajin tahu dan tempe yang tergabung dalam organisasi seperti Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia di Jakarta.

Dengan kondisi harga yang tidak stabil, urban farming menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan kedelai impor dan menjaga stabilitas pangan di ibu kota.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga