Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 96W di wilayah timur laut Kalimantan Utara. Fenomena ini diprediksi akan memengaruhi kondisi cuaca di Kepulauan Riau (Kepri) dalam beberapa hari ke depan.
Peningkatan Aktivitas Konvektif Terpantau
Berdasarkan analisis citra satelit dalam 24 jam terakhir, aktivitas konvektif di sekitar sistem bibit siklon menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini disampaikan BMKG melalui keterangan tertulis yang diakses dari situs resminya pada Rabu (1/7/2026).
BMKG memperkirakan intensitas bibit siklon tropis 96W dalam 24 jam ke depan akan meningkat menjadi siklon tropis. Pusat sistem diprediksi akan berada di sekitar 16,6 derajat Lintang Utara dan 114 derajat Bujur Timur, tepatnya di Laut China Selatan.
Kecepatan Angin dan Tekanan Udara Terpantau
Data BMKG menunjukkan kecepatan angin maksimum di sekitar bibit siklon mencapai 35 knot, dengan tekanan udara minimum sebesar 1.000 hPa. Sistem ini bergerak ke arah barat laut. Dalam 48 hingga 72 jam ke depan, intensitas sistem diperkirakan akan persisten dengan kecepatan angin tetap 35 knot.
"Secara umum, potensi Bibit Siklon Tropis 96W dalam 24-48 jam ke depan untuk berkembang menjadi siklon tropis berada dalam kategori tinggi," tulis BMKG dalam keterangannya.
Dampak Tidak Langsung terhadap Cuaca Indonesia
BMKG memperkirakan bibit siklon tersebut akan memberikan dampak tidak langsung terhadap cuaca di Indonesia selama 24 jam ke depan, atau hingga Kamis (2/7). Wilayah yang diprediksi terdampak meliputi:
- Hujan dengan kategori lebat di wilayah Kepulauan Riau.
- Gelombang laut dengan ketinggian kategori sedang (1,25-2,5 meter) di beberapa perairan, yaitu: Laut Natuna bagian utara, Selat Makassar bagian utara, Perairan Kepulauan Sangihe hingga Kepulauan Talaud, Laut Maluku, dan Samudra Pasifik utara Maluku.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan penerbangan.



