Sebanyak 252 siswa di Jakarta Timur diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan keprihatinan dan akan menindaklanjuti kasus ini secara serius.
Tanggapan Pemprov DKI
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dan menanggapi serius dugaan keracunan pangan ini. Pemprov terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Badan Gizi Nasional (BGN).
Chico mengonfirmasi bahwa sampel makanan telah diambil untuk uji laboratorium. Salah satu menu dilaporkan memiliki rasa masam. Hasil uji diperkirakan akan keluar pada pekan depan.
Seluruh siswa yang keracunan telah mendapat perawatan medis. Pemprov memastikan mereka mendapatkan penanganan terbaik hingga pulih.
Evaluasi SPPG
Pemprov DKI Jakarta akan mengevaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta, khususnya SPPG Pulogebang 15 yang menyuplai makanan ke para siswa. Saat ini, baru 167 dari total 609 SPPG di Jakarta yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
SPPG Pulogebang 15 mulai beroperasi pada 31 Maret 2026 dan masih dalam proses pengurusan SLHS sesuai Peraturan Kepala BGN Nomor 4 Tahun 2026. Hasil inspeksi lingkungan belum sepenuhnya memenuhi syarat, sehingga proses sertifikasi masih berjalan.
Data Dinkes DKI
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyatakan bahwa pihaknya bersama Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur telah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap SPPG Pulogebang. Langkah yang dilakukan meliputi inspeksi kesehatan lingkungan, pelatihan bagi penjamah makanan, dan penerbitan SLHS.
Sebelumnya, Dinkes mencatat 252 siswa mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG di Pulogebang. Dugaan sementara, sumber masalah berasal dari pangsit isi tahu yang memiliki rasa masam.



