Ikan Sapu-Sapu Serbu Sungai Jakarta: Pemprov DKI Lakukan Pemusnahan dan Kubur
Ikan Sapu-Sapu Serbu Sungai Jakarta, Pemprov DKI Musnahkan

Ikan Sapu-Sapu Serbu Sungai Jakarta: Ancaman Invasif yang Mengganggu Ekosistem

Infografis terkait ikan sapu-sapu belakangan ini cukup menyita perhatian publik di Indonesia. Bagaimana tidak, populasi ikan ini sempat 'menguasai' aliran sungai di kawasan mal sekitar Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, menimbulkan kekhawatiran serius.

Mekanisme Pemusnahan oleh Pemprov DKI Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian mengungkapkan mekanisme pemusnahan ikan sapu-sapu hasil penangkapan di sejumlah wilayah. Proses ini dilakukan dengan memastikan ikan benar-benar mati sebelum dikuburkan, seperti disampaikan Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok.

"Sebelumnya harus dipastikan sudah mati dulu baru dikubur. Karena ikan tersebut mempunyai kemampuan tinggi untuk bertahan hidup jadi dipastikan dulu mati baru dikubur," ujar Hasudungan kepada media pada Senin, 13 April 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, juga telah angkat bicara dan meminta operasi pembersihan ikan sapu-sapu diperluas ke seluruh wilayah ibu kota. Pramono menegaskan bahwa wilayah dengan populasi ikan sapu-sapu terbanyak harus dibersihkan tanpa terkecuali.

Alasan Ikan Sapu-Sapu Dikategorikan sebagai Hama Invasif

Keberadaan ikan sapu-sapu sering dianggap sebagai hama karena dinilai mengganggu ekosistem air dan berpotensi merugikan lingkungan. Berikut adalah beberapa alasan utama:

  • Asal Usul dan Penyebaran: Ikan sapu-sapu diketahui berasal dari Amerika Selatan, terutama kawasan Sungai Amazon. Spesies ini masuk ke berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui perdagangan ikan hias akuarium.
  • Laju Reproduksi Tinggi: Seekor betina dapat menghasilkan ribuan telur dalam satu musim bertelur, menyebabkan populasi meledak dengan cepat.
  • Peran sebagai Bottom Feeder: Sebagai ikan pemakan dasar, ikan sapu-sapu terus-menerus terpapar polutan yang mengendap di dasar sungai.
  • Akumulator Logam Berat: Tubuh mereka bertindak sebagai penyerap logam berat dari air dan sedimen, membuat dagingnya mengandung zat berbahaya seperti timbal dan merkuri, sehingga dilarang untuk dikonsumsi.

Sejumlah penelitian di sungai yang tercemar telah mengonfirmasi kandungan logam berat berbahaya dalam daging ikan sapu-sapu, memperkuat statusnya sebagai spesies invasif yang merusak.

Dampak dan Langkah Penanganan Lebih Lanjut

Infografis ini menyoroti mengapa ikan sapu-sapu dikategorikan invasif, dengan fokus pada ancaman ekologis dan upaya penanganan oleh otoritas. Pemusnahan dan penguburan yang ketat diperlukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, mengingat daya tahan hidup ikan yang luar biasa tinggi.

Operasi pembersihan yang diperluas di seluruh Jakarta diharapkan dapat mengendalikan populasi dan melindungi ekosistem perairan dari kerusakan lebih parah. Masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu karena risiko kesehatan yang serius dari akumulasi polutan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga