Fenomena 'War' Takjil di Benhil: Pedagang Keluhkan Omzet Turun Drastis
War Takjil Benhil: Pedagang Keluh Omzet Turun

Fenomena 'War' Takjil di Benhil: Pedagang Keluhkan Omzet Turun Drastis

Kegiatan 'war' takjil selalu dinantikan setiap bulan Ramadan, terutama di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, yang menjadi salah satu ikon bazar takjil di ibu kota. Namun, di balik keramaian yang terlihat, ternyata banyak pedagang justru mengeluhkan penurunan omzet penjualan mereka tahun ini.

Cuaca Hujan Jadi Faktor Utama Penurunan Pembeli

Yusra, seorang pedagang yang menjual nasi padang dan bubur kampiun selama Ramadan, mengungkapkan bahwa penjualannya menurun drastis dibandingkan tahun lalu. "Kalau tahun kemarin kita bisa laku seribu porsi sehari, tapi sekarang, karena sering hujan, konsumen pada nggak dateng," kata Yusra saat ditemui di lokasi dagangnya di Benhil, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Yusra, biasanya pembeli takjil membludak di awal Ramadan, kemudian keramaian mulai berkurang setelah pertengahan bulan dan hanya terjadi di akhir pekan. Namun, tahun ini pola tersebut tidak terlihat. "Untuk sekarang ini belum bisa capai penjualan porsi besar. Paling baru 20 sampai 35 porsi. Karena cuaca ya hujan," jelasnya.

Pedagang Lain Juga Alami Hal Serupa

Upi, pedagang asinan untuk berbuka puasa, juga merasakan hal yang sama. Ia menegaskan bahwa slogan tentang ramainya pembeli takjil di Benhil tidak selalu mencerminkan kenyataan. "Tetep ada pasang surut. Kalau hujan, siapa yang beli ke sini? Jangan dilihat rame aja, ada pasang surutnya," ungkap Upi.

Wahyu, pedagang yang sering berjualan di bazar kuliner perkantoran, mengungkapkan bahwa pendapatannya tahun ini jauh berbeda. "Jauh berbeda omzetnya, lebih gede di perkantoran," tuturnya. Biasanya, di akhir pekan ia menyiapkan 50 kilogram daging ayam untuk diolah menjadi steak, yang bisa menghasilkan 200 porsi. Namun tahun ini, hanya sekitar 150 porsi yang laku.

Omzet Turun Hingga 40 Persen, Karyawan Dikurangi

Sariyah, penjual kue basah dan gorengan untuk takjil, mengaku omzetnya turun hingga 40 persen. Kondisi ini memaksanya mengurangi jumlah karyawan. "Kalau tahun ini merosot. Enggak tahu penyebabnya, mungkin pengunjungnya sedikit. Turun 40 persen lah, kami tadinya ada karyawan tiga, sekarang cuma satu yang masarin," imbuh Sariyah.

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab penurunan omzet antara lain:

  • Cuaca hujan yang sering turun di sore hari, mengurangi minat pembeli datang ke lokasi.
  • Pergeseran pembeli ke bazar takjil di perkantoran yang lebih mudah dijangkau.
  • Penurunan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Meski demikian, para pedagang tetap berharap bahwa di sisa Ramadan dan menjelang Lebaran, omzet mereka bisa kembali meningkat. Mereka berharap cuaca mendukung dan pembeli kembali membludak seperti tahun-tahun sebelumnya.